BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Berbicara tentang perkembangan
tarekat di Indonesia tentu tidak akan bisa lepas dari
agama Islam berasal. Islam berasal dari jazirah Arab dibawa
oleh Rasulullah, kemudian diteruskan masa Khulafa ar-Rasyidin ini mengalami
perkembangan yang pesat. Penyebarluasan Islam ini bergerak ke seluruh penjuru
dunia. Islam datang membawa rahmat bagi seluruh umat manusia. Tarekat berasal
dari bahasa Arab : tarekaq, jamaknya tara’iq. Secara etimologi berarti : (1)
jalan, cara (al-kaifiyyah); (2) metode, sistem (al-uslub); (3) mazhab, aliran,
haluan (al-mazhab); Menurut istilah …tarekat berarti perjalanan seorang
saleh (pengikut tarekat) menuju Tuhan dengan cara menyucikan diri atau
perjalanan yang harus ditempuh oleh seseorang untuk dapat mendekatkan diri
sedekat mungkin kepada Tuhan
Dalam tasawwuf seringkali dikenal
istilah Thariqah, yang berarti jalan, yakni jalan untuk mencapai Ridla Allah.
Dengan pengertian ini bisa digambarkan, adanya kemungkinan banyak jalan,
sehingga sebagian sufi menyatakan, At thuruk bi adadi anfasil mahluk, yang
artinya jalan menuju Allah itu sebanyak nafasnya mahluk, aneka ragam dan
macamnya. Orang yang hendak menempuh jalan itu haruslah berhati hati, karena :
Ada yang sah dan ada yang tidak sah, ada yang diterima dan ada yang tidak
diterima. (Mu’tabarah. Wa ghairu Mu’tabarah)
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Bagaimana Sejarah pertumbuhan dan
perkembangan tarekat?
2.
Ada berapa Periodisasi sejarah
perkembangan tarekat di Indonesia?
BAB II
PEMBAHASAN
sejarah adalah
kejadian yang terjadi pada masa lampau yang disusun berdasarkan peninggalan-peninggalan berbagai peristiwa. Peninggalan peninggalan
itu disebut sumber sejarah.
Dalam bahasa Inggris, kata sejarah disebut history, artinya
masa lampau; masa lampau umat manusia. Dalam bahasa Arab, sejarah
disebut sajaratun (syajaroh), artinya pohon dan keturunan. Jika kita
membaca silsilah raja-raja akan tampak seperti gambar pohon dari sederhana dan
berkembang menjadi besar, maka sejarah dapat diartikan silsilah keturunan
raja-raja yang berarti peristiwa pemerintahan keluarga raja pada masa lampau.
Dalam bahasa Yunani, kata sejarah disebut istoria, yang
berarti belajar. Jadi, sejarah adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari segala
peristiwa, kejadian yang terjadi pada masa lampau dalam kehidupanmanusia.
Dalam bahasa Jerman, kata sejarah disebut geschichte yang artinya sesuatu yang telah terjadi, sesuatu yang telah terjadi pada masa lampau dalam kehidupan umat manusia. Adapun menurut Sartono Kartodirdjo, sejarah adalah rekonstruksi masa lampau atau kejadian yang terjadi pada masa lampau.
Dalam bahasa Jerman, kata sejarah disebut geschichte yang artinya sesuatu yang telah terjadi, sesuatu yang telah terjadi pada masa lampau dalam kehidupan umat manusia. Adapun menurut Sartono Kartodirdjo, sejarah adalah rekonstruksi masa lampau atau kejadian yang terjadi pada masa lampau.
Ada tiga aspek dalam sejarah, yaitu masa lampau, masa kini,
dan masa yang akan datang. Masa lampau dijadikan titik tolak untuk masa yang
akan datang sehingga sejarah mengandung pelajaran tentang nilai dan
moral.
Tarekat
berasal dari bahasa Arab, thariqah jamaknya tara’iq secara
etimologi tarekat berarti jalan, metode, system, mazdhab, aliran, haluan dan
keadaan[1].
Tarekat ecara terminologi adalah “jalan” yang ditempuh para sufi. Jalan ini
dapat digambarkan sebagai jalan ayang berpangkal dari syari’at sebab jalan
utama di sebut syara’ sedangkan anak jalannya disebut denga thariq.
Dengan kata lain tarekat adalah perjalanan para salik (pengikut tarekat) menuju
tuhandengan cara menyucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh seseorang
untuk mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Allah Swt[2].
L. massignon salah seorang peneliti tasawuf
diberbagai negara muslim, berkesimpulann bahwa tasawuf mempunyai dua
pengertian.
Pertama, tarekat diartikan sebagi Pendidikan
kerohanian yang sering dilakukan oleh orang-orang yang menempuh jalan tasawuf,
unutk mencapai suatu tingkatan yang disebut al-maqamat dan al-akhwal.
Pengertian ini menonjol sekitar abada kesembilan dan kesepuluh masehi.
Kedua, tarekat yang diartikan sebagi perkumpulan
yang didirikan menurut aturan yang telah dibuat oleh seorang syekh yang
menganut aliran tarekat tertemtu. Dalam perkumpulan itulah seorang syekh
menganut suatu aliran yang dianutnya, lalau mengamalkannya Bersama
murid-muridnya. Pengertian dan define ini menonjol setelah abad kesembilan
masehi.
Sebenarnya membicarakan tarekat,
tentu tidak bisa terlepas dengan tasawuf karena pada dasarnya Tarekat itu
sendiri bagian dari tasawuf. Di dunia Islam tasawuf telah menjadi kegiatan
kajian keislaman dan telah menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri. Landasan
tasawuf yang terdiri dari ajaran nilai, moral dan etika, kebajikan, kearifan,
keikhlasan serta olah jiwa dalam suatu kehkusyuan telah terpancang kokoh.
Sebelum ilmu tasawuf ini membuka pengaruh mistis keyakinan dan kepercayaan
sekaligus lepas dari saling keterpengaruhan dengan berbagai kepercayaan atau
mistis lainya. Sehingga kajian tasawuf dan tarekat tidak bisa dipisahkan dengan
kajian terhadap pelaksananya di lapangan.
Dalam hal ini praktek ubudiyah dan
muamalah dalam tarekat walaupun sebenarnya kegiatan tarekat sebagai sebuah institusi
lahir belasan abad sesudah adanya contoh kongkrit pendekatan kepada Allah yang
telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. kemudian diteruskan oleh
Sahabat-sahabatnya, tabiin, lalu tabi’it taabiin dan seterusnya sampai kepada
Auliyaullah, dan sampai sekarang ini. Garis yang menyambung sejak nabi hingga
sampai Syaikh tarekat yang hidup saat ini yang lazimnya dikenal dengan Silsilah
tarekat.
Tumbuhnya tarekat dalam Islam
sesungguhnya bersamaan dengan kelahiran agama islam, yaitu ketika nabi Muhammad
SAW diutus menjadi Rasul. Fakta sejarah menunjukkan bahwa pribadi nabi Muhammad
SAW sebelum diangkat menjadi Rasul telah berulang
kali bertakhannus atau berkhalwat di gua Hira. Disamping
itu untuk mengasingkan diri dari masyarakat Mekkah yang sedang mabuk mengikuti
hawa nafsu keduniaan. Takhannus dan khlalwat Nabi adalah untuk mencari
ketenangan jiwa dan kebersihan hati dalam menempuh problematika dunia yang
kompleks. Proses khalwat yang dilakukan nabi tersebut dikenal dengan tarekat.
Kemudian diajarkan kepada sayyidina Ali RA. dan dari situlah kemudian Ali
mengajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya sampai akhirnya sampai
kepada Syaikh Abd Qadir Djailani, yang dikelal sebagai pendiri Tarekat
Qadiriyah.
Menurut Al-Jurjani ‘Ali bin Muhammad
bin ‘Ali mengatakan bahwa : Tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik
(para penempuh jalan) menuju Allah Ta’ala melalui tahapan-tahapan/ maqamat.
Dengan demikian tarekat memiliki dua pengertian, Pertama ia berarti
metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan
kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai
persaudaraan kaum sufi (sufi brother hood) yang ditandai dengan adannya lembaga
formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah. Bila ditinjau dari sisi lain tarekat
itu mempunyai tiga sistem, yaitu: system kerahasiaan, sistem kekerabatan
(persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah
suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub.
Kekurangan informasi yang bersumber
dari fakta peninggalan agama Islam. Para kiai dan ulama kurang dan bahkan dapat
dikatakan tidak memiliki pengertian perlunya penulisan sejarah[3] Tidaklah
mengherankan bila hal ini menjadi salah satu sebab sulitnya menemukan fakta
tentang masa lampau Islam di Indonesia. Islam di Indonesia tidak sepenuhnya
seperti yang digariskan Al-Qur’an dan Sunnah saja, pendapat ini didasarkan pada
kenyataan bahwa kitab-kitab Fiqih itu dijadikan referensi dalam memahami ajaran
Islam di perbagai pesantren, bahkan dijadikan rujukan oleh para hakim dalam
memutuskan perkara di pengadilan pengadilan agama.[4] Islam
di Asia Tenggara mengalami tiga tahap :
Pertama,
Islam disebarkan oleh para pedagang yang berasal dari Arab, India, dan Persia
disekitar pelabuhan (Terbatas).
Kedua :
datang dan berkuasanya Belanda di Indonesia, Inggris di semenanjung Malaya, dan
Spanyol di Fhilipina, sampai abad XIX M;
Ketiga : Tahap liberalisasi
kebijakan pemerintah Kolonial, terutama Belanda di Indonesia.[5] Indonesia
yang terletak di antara dua benua dan dua samudra, yang memungkinkan terjadinya
perubahan sejarah yang sangat cepat. Keterbukaan menjadikan pengaruh luar tidak
dapat dihindari. Pengaruh yang diserap dan kemudian disesuaikan dengan budaya
yang dimilikinyam, maka lahirlah dalam bentuk baru yang khas Indonesia.
Misalnya : Lahirnya tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah, dua tarekat yang
disatukan oleh Syaikh Ahmad Khatib As-Sambasy dari berbagai pengaruh budaya
yang mencoba memasuki relung hati bangsa Indonesia, kiranya Islam sebagai agama
wahyu berhasil memberikan bentukan jati diri yang mendasar. Islam berhasil
tetap eksis di tengah keberadaan dan dapat dijadikan symbol kesatuan. Berbagai
agama lainnya hanya mendapatkan tempat disebagian kecil rakyat Indonesia.
Keberadaan Islam di hati rakyat Indonesia dihantarkan dengan penuh kelembutan
oleh para sufi melalui kelembagaan tarekatnya, yang diterima oleh rakyat
sebagai ajaran baru yang sejalan dengan tuntutan nuraninya.
Setidaknya ada ratusan tarekat yang
telah berkembang di Dunia. Tentu untuk menjelaskan kesemua tarekat tersebut
tidak cukup memuat di lembaran makalah yang hanya beberapa lembar ini. Untuk
itu penulis hanya mengangkat beberapa tarekat saja yang paling tidak bisa
memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada kita tentang Tarekat tersebut
termasuk ajaran-ajarannya.
1.
Tarekat Qadiriyah.
Qadiriiyah adalah nama tarekat yang
diambil dari nama pendirinya yaitu Abdul al-Qadir Jailani yang terkenal dengan
sebutan Syeikh Abd al-Qadir Jila al-Gawast al-Auliya. Tarekat ini menempati
posisi yang amat penting dalam sejarah spritualitas Islam, karena tidak saja
sebagai pelopor lahirnya organisasi tarekat, tetapi juga cikal bakal munculnya
berbagai cabang tarekat di dunia. Kedati struktur organisasinya baru muncul
beberapa dekade setelah kematiannya.
2.
Tarekat Syaziiliyah
Pendirinya yaitu Abu al-Hasan
al-Syadzili. Nama legkapnya adalah Ali ibn Abdullah bin Abd Jabbar Abu al Hasan
al-syadziili. Beliau dilahirkan di desa Ghumarra. Terekat ini berkembang
pesat antara lain di Tunisia, Mesir, Sudan, suriah dan semenanjung Arabiyah,
masuk Indonesia khususnya di Wilayah Jawa tengah dan Jawa Timur. Adapun
pemikiran pemikiran terkat al-Syaziliyah antara lain : Pertama, Tidak menganjurkan
kepada muridnya untuk meninggalkan profesi dunia. Pandangannya mengenai
pakaian, makanan dan kendaraan, akan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah SWT.
Meninggalkannya yang berlebihan akan menimbulkan hilangnya rasa syukur, dan
berlebihan dalam memanfaatkan dunia akan membawa kepada kezaliman.[6] Kedua,
Tidak mengabaikan dalam menjalankan syariat Islam. Ketiga, Zuhud tidak
berarti harus menjauhi dunia karena pada dasarnya zuhud adalah mengosongkan
hati dari selain Tuhan.. Keempat, Tidak ada larangan bagi kaum salik untuk
menjadi Miliuner yang kaya raya, asalkan hatinya tidak tergantung pada harta
yang dimilikinya. Seorang boleh saja mencari harta, namun jangan menjadi hamba
dunia. Kelima, Berusaha merespon apa yang sedang mengancam kehidupan umat
, berusaha menjembatani antara kekeringan spiritual yang dialami oleh banyak
orang yang hanya sibuk dengan urusan duniawi. Menurut ajaran tarekat Syaziliyah
mudah dalam perkara ilmu dan akal. Ajaran serta latihan–latihan penyucian
dirinya tidak rumit dan tidak berbelit-belit. Yang dituntut dari para
pengikutnya adalah meninggalkan maksiat, harus memelihara segala yang
diwajibkan oleh Allah SWT dan mengerjakan ibadah-ibadah yang disunnahkan
sebatas kemampuan tanpa paksaan. Bila telah mencapai tingkat yang lebih tinggi,
maka wajib melakukan zikrullah sekurang-kurangnya seribu kali dalam sehari
semalam dan juga harus beristigfar sebanyak seratus kali dan membaca shalawat
terhadap nabi Muhammad SAW sekurang kurangnya seratus kali sehari semalam.
3.
Tarekat Naqsyabandiyah
Pendiri tarekat ini adalah Muhammad
bin Muhammad Bah al-Din al-Uwaisi al-Bukhari Naqsyabandi. Lahir di Qashrul
Arifah. Ia mendapat gelar Syah yang menunjukkan posisinya yang penting sebagai
pemimpin spiritual. Ia belajar Ilmu Tarekat pada Amir Sayyid Kulal al-Bukhari.
Dari sinilah ia pertama belajar tarekat. Pada dasarnya tarekat ini bersumber
dari Abu Ya’qub Yusuf al-Hamdani, seorang sufi yang hidup sezaman dengan Abdul
Qadir Jailani. Pusat perkembangan Tarekat Tarekat Naqsyabandiyah adalah di
Asia Tengah, ke Turki, India, Mekkah termasuk ke Indonesia, melalui Jemaah Haji
yang pulang ke Indonesia. Dalam perkembangannya mengalami pasang surut. Hal ini
disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain : Gerakan Pembaharuan dan politik.
Penaklukan Makkah oleh Abd al-Aziz bin Saud berakibat besar terhambatnya
perkembangan tarekat Naqsabandiyah. Karena sejak saat itu kepemimpinan di
Makkah diperintah oleh kaum Wahaby yang mempunyai pandangan buruk terhadap
tarekat.
Sejak itu tertutuplah kemungkinan
untuk mengajarkan tarekat ini di Makkah bagi Jamaah haji khususnya dari
Indonesia yang setiap dari generasi banyak dari mereka masuk
tarekat. Tarekat Naqsabandiyah mempunyai beberapa tata cara peribadatan,
teknik spiritual dan ritual tersendiri, antara lain adalah : Pertama, Husy
dar dam , Suatu latihan konsentrasi dimana seorang harus menjaga diri dari
kehkilafan dan kealpaan ketika keluar masuk nafas, supaya hati selalu merasakan
kehadiran Allah SWT . Kedua, Nazhar bar Qadam, “Menjaga langkah”. Seorang
murid yang sedang menjalani khalwat suluk, bila berjalan harus menundukkan
kepala , melihat kearah kaki. Dan apabila duduk, tidak memandang ke kiri atau
ke kanan. Ketiga, Safar dar wathan.” Melakukan perjalan di tanah
kelahirannya”. Maknanya melakukan perjalanan bathin dengan meninggalkan segala
bentuk ketidaksempurnaannya sebagai manusia menuju kesadaran akan hakikatnya
sebagai mahluk yang mulia. Keempat, Khalwat dari anjuman, ” Sepi di tengah
keramaian”. Kelima, Yad krad, ” Ingat atau menyebut”. Berzikir terus
menerus mengingat Allah, baik zikir Ism al-Dzat(menyebut nama Allah)maupun
zikir naïf Itsbat ( Menyebut La Ilaha Illa Allah )
4.
Tarekat Khalwatiyah.
Nama tersebut diambil dari nama
seorang sufi ulama dan pejuang Makassar yaitu Muhammad Yusuf bin Abdullah Abu
Mahasin al-Taj al-Khalwaty al-Makassary. Sekarang terdapat dua cabang terpisah
dari tarekat ini yang hadir bersama kita. Keduanya dikenal dengan nama Tarekat
Khalwatiyah Yusuf dan Khalwatiyah Samman. Tarekat Khalwatiyah ini hanya
menyebar dikalangan orang Makassar dan sedikit orang bugis. Para khalifah yang
diangkat terdiri dari orang Makassar sehingga secara etnis tarekat ini
dikaitkan dengan suku tersebut. Beliau yang pertama kali menyebarkan tarekat ini ke
Indonesia. Guru beliau Syaikh Abu al- Baraqah Ayyub al-Kahlwati
al-Quraisy. bergelar ” Taj al- Khalwaty” sehingga namanya menjadi Syaikh
Yusuf Taj al-Khalwaty. Al-Makassary dibaiat menjadi penganut Tarekat
Khalwatiyah di Damaskus Ada indikasi bahwa tarekat yang dijarkan
merupakan penggabungan dari beberapa tarekat yang pernah ia pelajari, walaupun
Tarekat Khalwatiyah tetap yang paling dominan. Adapun dasar ajaran Tarekat
khalwatiyah adalah : Pertama, Yaqza maksudnya kesadaran akan dirinya
sebagai makhluk yang hina di hadapan Allah SWT. Yang maha Agung. Kedua,
Taubah Mohon ampun atas segala dosa. Ketiga, Muhasabah, menghitung-hitung
atao introspeksi diri. Keempat, Inabah, berhasrat kembali kepada
Allah. Kelima, Tafakkur Merenung tentang kebesaran Allah. Keenam,
I’tisam selalu bertindak sebagai Khalifah Allah di bumi. Ketujuh, Firar
Lari dari kehidupan jahat dan keduniawian yang tidak berguna. Kedelapan,
Riyadah melatih diri dengan beramal sebanyak-banyaknya. Kesembilan,
Tasyakur, selalu bersyukur kepada Allah dengan mengabdi dan memujinya. Kesepuluh,
Sima’ mengkonsentrasikan seluruh anggota tubuh dan mengikuti perintah-perintah
Allah terutama pendengaran.
5.
Tarekat Syattariyah.
Pendirinya tarekat Syaikh Abd Allah
al-Syathary. Jika ditelusuri lebih awal lagi tarekat ini sesunggguhnya memiliki
akar keterkaitan dengan tradisi Transoxiana, karena silsilahnya terhubungkan
kepada Abu Yazid al-Isyqi, yang terhubungkan lagi kepada Abu yazid al- Bustami
dan Imam Ja’far Shadiq. Tidak mengherankan kemudian jika tarekat ini dikenal
dengan nama Tarekat Isyqiyyah di Iran, atau Tarekat Bistamiyah di Turki
Utsmani. Sekitar abad ke lima cukup popular di Wilayah Asia Tengah, sebelum
akhirnya memudar dan pengaruhnya digantikan oleh Tarekat
Naqsabandiyah. Tarekat Syattariyah menonjolkan aspek dzikir dalam
ajarannya. Para pengikut tarekat ini mencapai tujuan-tujuan mistik melalui
kehidupan asketisme atau zuhud. Untuk menjalaninya seseorang terlebih dahulu
harus mencapai kesempurnaan pada tingkat akhyar (orang yang terpilih) dan Abrar
(orang yang terbaik). Ada sepuluh aturan yang harus dilalui untuk mencapai
tujuan tarekat Syattariyah ini, Sebagaimana yang di kutip dalam Ensiklopedi
Islam yaitu : Tobat, Zuhud, Tawakkal, Qanaah, Uzlah, Muraqabah, Sabar,
Ridha, Dzikir dan Musyaahadah (menyaksikan Keindahan, kebesaran dan kemuliaan
AllahSWT Dzikir dalam Tarekat Syattariyah terbagi ke dalam tiga kelompok yaitu
: Kesatu, Menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan
keagungan-Nya, Kedua, menyebut nama-nama Allah SWT yang berhubungan dengan
Keindahan-Nya, Ketiga, menyebut nama-nama Allah SWT yang merupakan
gabungan dari kedua sifat tersebut.
6.
Tarekat Sammaniyah.
Didirikan oleh Muhammad bin Abdul
Karim al-Madani al-Syafi’i al-samman, lahir di Madinah dari keluarga Quraisy.
Di kalangan muridnya ia lebih di kenal dengan nama al-Sammany atau Muhammad
Samman. Beliau banyak menghabiskan hidupnya di Madinah dan tinggal di rumah
bersejarah milik Abu Bakar As-siddiq. Guru – guru beliau Muhammad Hayyat
seorang muhaddits di Haramain sebagai penganut tarekat Naqsyabandiyah, Muhammad
bin Abdul Wahhab, seorang penentang bid’ah dan praktik-praktik syirik serta
pendiri Wahabiyah., Muhammad Sulaiman Al-Qurdi, Abu Thahir Al-Qur ani, Abdul
Allah Al-Basri, dan Mustafa bin Kamal Al-Din Al-Bakri. Mustafa bin kamal Al-Din
al-Bakri (Mustafa Al-Bakri) adalah guru bidang tasauf dan tauhid dan merupakan
Syaikh Tarekat Khalwatiyah yang menetap di Madinah. Samman membuka cabang
tarekat Al-Muhammadiyah. Samman belajar tarekat Khalwatiyah,
Naqshabandiyah, Qadiriyah, Syadziliyah. Dengan masuk menjadi murid tarekat
Qadiriyah ia dikenal dengan nama Muhammad Bin Abdul Karim Al-Qadiri Al-Samman
dalam perjalanan belajarnya itu ternyata tarekat Naqsabandiyah juga banyak
mempengaruhinya, sementara itu tarekat Syadziliyah juga dipelajari oleh Samman
sebagai Tarekat yang mewakili tradisi tasauf Maghribi. Dari beberapa
ajaran tarekat yang dipelajarinya, Samman akhirnya meracik tarekat tersebut,
termasuk memadukan tekhnik-tekhnik zikir, bacaan bacaan, dan ajaran mistis
lainnya, sehingga menjadi satu nama tarekat yaitu tarekat Sammaniyah. Tarekat
Sammaniyah ini juga berkembang di Nusantara, menurut keterangan dari Snouck
Haugronje selama tinggal di Aceh, ia menyaksikan tarekat ini telah dipakai oleh
masyarakat setempat. selain itu Tarekat ini juga banyak berkembang di daerah
lain terutama di Sulawesi selatan. Dan menurut keterangan Sri Muliyati bahwa
dapat dipastikan bahwa di daerah Sulawesi Selatanlah Tarekat Sammaniyah yang
terbanyak pengikutnya hingga kini.
Ajaran-ajaran pokok yang terdapat Tarekat ini adalah :
Tawassul, Memohon berkah kepada
pihak-pihak tertentu yang dijaadikan wasilah(perantara) agar maksud bisa
tercapai. Obyek tawasul tarekat ini adalah Nabi Muhammad, keluarganya, para
sahabatnya, asma-asma Allah, para Auliya, para ulama Fiqih, para ahli Tarekat,
para ahli Makrifat, kedua orang tua
Wahdat al-Wujud, merupakan tujuan akhir yang mau di capai oleh para
sufi dalam mujahadahnya.Wahdatul wujud merupakan tahapan dimana ia menyatu
dengan hakikat alam yaitu Hakikat Muhammad atau nur Muhammad.
Nur Muhammad . Nur Muhammad merupakan
salah satu rahasia Allah yang kemudian diberinya maqam. Nur Muhammad adalah
pangkal terbentuknya alam semesta dan dari wujudnya terbentuk segala makhluk.
Insan Kamil, dari segi syariat Wujud
Insan kamil adalah Muhammad dan sedang dari segi hakekat adalah Nur Muhammad
atau hakekat Muhammad, Orang Islam yang berminat menuju Tuhan sampai bertemu
sampai bertemu denganya harus melewati koridor ini yaitu mengikuti jejak
langkah Muhammad.
7.
Tarekat Tijaniyah
Didirkan oleh syaikh Ahmad bin
Muhammad al-Tijani, lahir di ‘Ain Madi, Aljazair Selatan, dan meninggal di Fez,
Maroko. Syaikh Ahmad Tijani diyakini sebagai wali agung yang memiliki derajat
tertinggi, dan memiliki banyak keramat, menurut pengakuannya, Ahmad Tijani
memiliki Nasab sampai kepada Nabi Muhammad . Silsilah dan garis nasabnya adalah
Sayyid Ahmad bin Muhammad bin Salim bin al-Idl bin salim bin Ahmad bin Ishaq
bin Zain al Abidin bin Ahmad bin Abi Thalib, dari garis sitti Fatimah al-Zahra
binti Muhammad Rasulullah SAW. Ahmad Tijani lahir dan di besarkan dalam
lingkungan tradisi keluarga yang taat beragama. Beliau memperdalam ilmu
kepada para wali besar di berbagai Negara seperti Tunis, Mesir, Makkah,
Medinah, Maroko. Kunjungan itu untuk mecari ilmu-ilmu kewalian secara lebih
luas, sehingga ia berhasil mencapai derajat kewalian yang sangat
tinggi. Selanjutnya tarekat ini berkembang di Negara Afrika seperti
Sinegal, Mauritania, Guinea, Nigeria, dan Gambia, bahkan sampai ke luar Afrika
termasuk Saudi Arabia dan Indonesia.
Tarekat Tijaniah masuk ke Indonesia
tidak diketahui secara pasti, tetapi ada fenomena yang menunjukkan gerakan awal
Tarekat Tijaniyah yaitu : Kehadiran Syaikh Ali bin Abd Allah al-Thayyib dan
adanya pengajaran Tarekat Tijaniyah di Pesantren Buntet Cirebon. Kehadiran
Syaikh Ali bin Abd Allah al-Thayyib tidak diketahui secara pasti tahunnya.
Menurut penjelasan GF. Pijper dalam buku Fragmenta Islamica: Beberapa tentang
Studi tentang Islam di Indonesia abad 20 sebagaimana yang di kutip oleh Sri
Muliyati bahwa Syaikh Ali bin Abd Allah al-Thayyib datang pertama kali ke
Indonesia, saat menyebarkan Tarekat Tijaniyah ini di Tasikmalaya.
Berdarkan kehadiran Syaikh Ali bin
Abd Allah al-Thayyib ke pulau Jawa, maka Tarekat Tijaniyah ini diperkirakan
datang ke Indonesia pada awal abad ke 20 M. namun menurut Pijper, sebelum tahun
1928 Tarekat Tijaniyah belum mempunyai pengikut di pulau jawa. Pijper
menjelaskan bawha Cirebon merupakan tempat pertama diketahui adanya gerakan
tarekat Tijaniyah. Pada bulan Maret 1928 pemerintah Kolonial mendapat laporan
bahwa ada gerakan keagamaan yang dibawa oleh guru agama ( Kiyai) yag membawa
ajaran Tarekat baru yaitu Tijaniyah.
Dari Cirebon ini kemudian menyebar
secara luas ke daerah-daerah di pulau Jawa melalui murid-murid pesantren Buntet
ini. Perkembanga tarekat ini pada akhirnya bukan hanya dari pesantren Buntet di
Cirebon tetapi juga dari luar Cirebon. Seperti Tasikmalaya, Brebes dan Ciamis.
Selanjutnya Mengenai ajaran ajaran Tarekat ini, pada dasarnya hampir
sama dengan tarekat-tarekat yang telah berkembang sebelumnya pendekatan kepada Allah melalui Dzikir. Ajaran Tarekat ini cukup sederhana , yaitu perlu adanya perantara ( wasilah) antar seorang manusia dengan atau dan Tuhan . Perantara itu adalah
dirinya sendiri dan para pengganti/wakil/naibnya. Pengikut-pengikutnya dilarang keras mengikuti guru-guru lain yang manapun , bahkan ia dilarang pula untuk memohon kepada wali dimanapun selain diriya. Secara umum amalan zikir (wirid) dalam Tarekat Tijaniyah terdiri dari tiga unsur pokok yaitu, Istigfar, Shalawat, dan Hailalah. Inti ajaran zikir dalam Tarekat Tijaniyah adalah sebagai upaya mengosongkan jiwa dari sifat-sifat lupa terhadap Allah dan mengisinya secara terus menerus dengan menghadirkan jiwa kepada Allah SWT melalui zikir terhadap zat, sifat-sifat, hukum-hukum dan perbuatan Allah. Zikir tersebut meliputi dua tatacara atau bisa dikatakan juga mencakup dua bentuk,
yaitu zikir bil al-Lisan dan zikir bi al-Qalb. Adapun bentuk amalan wirid Tarekat Tijaniyah terdiri dari dua jenis yaitu, Wirid Wajibah dan wirid Ikhtiyaariyah, Wirid Wajibah yakni wirid yang wajib diamalkan oleh setiap murid Tijaniyah, tidak boleh tidak dengan kata lian harus melakukan dan menjadi ukuran sah atau tidaknya
menjadi murid Tijaniyah. Wirid Ikhtiyariyah yakni Wirid yang tidak mempunyai ketentuan kewajiban untuk mengamalkannya, dan tidak menjadi ukuran syarat sah atau tidaknya menjadi seorang murid sebuah tarekat Tijaniyah. Wirid Wajibah ini
terbagi lagi menjadi tiga yaitu (1)Wirid Lazimah, (2)Wirid Wadzifah, (3)Wirid hailalah.
sama dengan tarekat-tarekat yang telah berkembang sebelumnya pendekatan kepada Allah melalui Dzikir. Ajaran Tarekat ini cukup sederhana , yaitu perlu adanya perantara ( wasilah) antar seorang manusia dengan atau dan Tuhan . Perantara itu adalah
dirinya sendiri dan para pengganti/wakil/naibnya. Pengikut-pengikutnya dilarang keras mengikuti guru-guru lain yang manapun , bahkan ia dilarang pula untuk memohon kepada wali dimanapun selain diriya. Secara umum amalan zikir (wirid) dalam Tarekat Tijaniyah terdiri dari tiga unsur pokok yaitu, Istigfar, Shalawat, dan Hailalah. Inti ajaran zikir dalam Tarekat Tijaniyah adalah sebagai upaya mengosongkan jiwa dari sifat-sifat lupa terhadap Allah dan mengisinya secara terus menerus dengan menghadirkan jiwa kepada Allah SWT melalui zikir terhadap zat, sifat-sifat, hukum-hukum dan perbuatan Allah. Zikir tersebut meliputi dua tatacara atau bisa dikatakan juga mencakup dua bentuk,
yaitu zikir bil al-Lisan dan zikir bi al-Qalb. Adapun bentuk amalan wirid Tarekat Tijaniyah terdiri dari dua jenis yaitu, Wirid Wajibah dan wirid Ikhtiyaariyah, Wirid Wajibah yakni wirid yang wajib diamalkan oleh setiap murid Tijaniyah, tidak boleh tidak dengan kata lian harus melakukan dan menjadi ukuran sah atau tidaknya
menjadi murid Tijaniyah. Wirid Ikhtiyariyah yakni Wirid yang tidak mempunyai ketentuan kewajiban untuk mengamalkannya, dan tidak menjadi ukuran syarat sah atau tidaknya menjadi seorang murid sebuah tarekat Tijaniyah. Wirid Wajibah ini
terbagi lagi menjadi tiga yaitu (1)Wirid Lazimah, (2)Wirid Wadzifah, (3)Wirid hailalah.
8.
Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah,
Tarekat ini
adalah merupakan tarekat gabungan dari tarekat Qadiriyah dan Tarekat
Naqsyabandiyah (TQN). Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah yang terdapat di
Indonesia bukanlah hanya merupakan suatu penggabungan dari dua tarekat yang
berbeda yang diamalkan bersama-sama. Tarekat ini lebih merupakan sebuah tarekat
yang baru dan berdiri yang di dalamnya unsur-unsur pilihan dari Qadiriyah dan
juga Naqsyabandiyah telah dipadukan menjadi sesuatu yang baru. Tarekat ini
didirikan oleh OrangIndonesia Asli yaitu Ahmad Khatib Ibn al-Ghaffar Sambas,
yang bermukim dan mengajar di Makkah pada pertengahan abad kesembilan belas. Bila dilihat
dari perkembangannya Tarekat ini bisa juga disebut “Tarekat Sambasiyah” Tapi
Nampaknya Syaikh al-Khatib tidak menamakan tarekatnya dengan namanya sendiri.
berbeda dengan guru-gurunya yang lain yang memberikan nama tarekatnya sesuai
dengan nama pengembangnya. Sebagaimana kebiasaan ulama-ulama sebelumnya untuk
memperdalam ilmu agama, kiranya mereka berangkat ke Makkah untuk memperdalam
ilmu yang mereka miliki. Demikian pula halnya dengan Ahmad Khatib, ia berangkat
ke Makkah untuk belajar Ilmu-ilmu Islam termasuk tasawuf dan mencapai posisi
yang sangat di hargai diantara teman-temannya dan kemudian menjadi seorang
tokoh yang berpengaruh di seluruh Indonesia. Diantara gurunya adalah Syaikh
Daud bin Abd Allah bin Idris al Fatani, Syaikh Muhammad Shalih Rays, selain itu
ia juga banyak mengikuti dan menghadiri kuliah-kuliah yang diberikan oleh
Syaikh Bishry al-Jabaty, Sayyid ahmad al-Marzuki, Sayyid abd Allah ibn Muhammad
al- Mirghany.
Sebagaimana di singgung sebelumnya
bahwa tarekat ini mengambil dua nama tarekat yang telah berkembang sebelumnya
yaitu Qadiriyah dan Naqsabandiyah. Tarekat Qadariyah sendiri dibangun dan
didirikan atas prakarsa Syekh Abdul Qadir Jaelani
yang mengacu pada tradisi Mazhab Iraqy yang dikembangkan oleh al-Junaid, sedangkan Tarekat Naqsyabandiyah dibangun oleh Muhammad bin Muhammad Bah al-Din al-Uwaisi al-Bukhari Naqsyabandi yang didasarkan kepada tradisi al-Khurasany yang dipelopori oleh seorang masyakhih yang bernama al-Bisthami. Di samping itu
keduanya juga mempunyai cara-cara yang berbeda terutama dalam menerapkan cara dan teknik berzikir. Qadiriyah lebih mengutamakan pada penggunaan cara-cara zikir keras dan jelas ( dzikr Jahr ), dalam menyebutkan Nafy dan Itsbath, yakni Kalimat La Ilaaha Illa Allah. Sementara Naqsyabandiyah lebih suka memilih dzikir dengan cara yang lembut dan samar ( Dzikr Khafy), pada pelafalan Ism al-Dzat,Yakni Allah-Allah-Allah. Tarekat ini mengajarkan tiga syarat yang harus dipenuhi orang yang sedang berjalan menuju Allah, yaitu zikir diam dalam mengingat , merasa selalu diawasi oleh Allah di dalam secara batiniah atau didalam hatinya dan pengabdian kepada Syaikh..
Aturan dzikir yang telah diformulasikan oleh Syaikh Ahmad Khatib pada Tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah dalam bentuk Nafyi wa Itsbat atau dengan Ism al-Dza, merupaka satu bentuk bimbingan praktis yang didorong dan didasari ayat-ayat Al-Qur’an. Sehingga Thariqah, jalan spritualnya diformulasikan sedemikian rupa sehingga berzikir menjadi lebih efektif, mudah dirasakan dan diresapkan dalam hati orang yang melakukannya, baik dalam bentuk dzikir Jahr maupun dalam bentuk Sirr.
yang mengacu pada tradisi Mazhab Iraqy yang dikembangkan oleh al-Junaid, sedangkan Tarekat Naqsyabandiyah dibangun oleh Muhammad bin Muhammad Bah al-Din al-Uwaisi al-Bukhari Naqsyabandi yang didasarkan kepada tradisi al-Khurasany yang dipelopori oleh seorang masyakhih yang bernama al-Bisthami. Di samping itu
keduanya juga mempunyai cara-cara yang berbeda terutama dalam menerapkan cara dan teknik berzikir. Qadiriyah lebih mengutamakan pada penggunaan cara-cara zikir keras dan jelas ( dzikr Jahr ), dalam menyebutkan Nafy dan Itsbath, yakni Kalimat La Ilaaha Illa Allah. Sementara Naqsyabandiyah lebih suka memilih dzikir dengan cara yang lembut dan samar ( Dzikr Khafy), pada pelafalan Ism al-Dzat,Yakni Allah-Allah-Allah. Tarekat ini mengajarkan tiga syarat yang harus dipenuhi orang yang sedang berjalan menuju Allah, yaitu zikir diam dalam mengingat , merasa selalu diawasi oleh Allah di dalam secara batiniah atau didalam hatinya dan pengabdian kepada Syaikh..
Aturan dzikir yang telah diformulasikan oleh Syaikh Ahmad Khatib pada Tarekat Qadiriyah-Naqsabandiyah dalam bentuk Nafyi wa Itsbat atau dengan Ism al-Dza, merupaka satu bentuk bimbingan praktis yang didorong dan didasari ayat-ayat Al-Qur’an. Sehingga Thariqah, jalan spritualnya diformulasikan sedemikian rupa sehingga berzikir menjadi lebih efektif, mudah dirasakan dan diresapkan dalam hati orang yang melakukannya, baik dalam bentuk dzikir Jahr maupun dalam bentuk Sirr.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat diambil
kesimpulan antara lain:
Istilah tarekat diambil dari bahasa
Arab thariqah yang berarti jalan atau metode. Sedangkan pengertian
tarekat secara istilah adalah suatu jalan atau cara untuk mendekatkan diri
kepada Allah, dengan mengamalkan ilmu Tauhid, Fikih dan Tasawuf. Ia bisa juga
berarti sebuah pengorganisasian dari tasawuf.
Unsur-unsur terpenting dalam tarekat
ada lima: 1. Mursyid (guru), 2. Baiat (janji setia), 3. Silsilah (hubungan
antar guru), 4. Murid, dan 5. Ajaran.
Adapun tujuan utama pendirian
berbagai tarekat oleh para sufi adalah untuk membina dan mengarahkan seseorang
agar bisa merasakan hakikat Tuhannya dalam kehidupan sehari-hari melalui
perjalanan ibadah yang terarah dan sempurna.
Pada awalnya, tarekat itu merupakan
bentuk praktik ibadah yang diajarkan secara khusus kepada orang tertentu.
Misalnya, Rasulullah mengajarkan wirid atau zikir yang perlu diamalkan oleh Ali
ibn Abi Thalib. Kemudian kemunculan tarekat sendiri diawali dengan
pengklasifikasian antara syariat, tahriqat, haqiqat, dan makrifat
oleh para sufi. Barulah pada abad ke-5 Hijriyah atau 13 Masehi muncul tarekat
sebagai kelanjutan dari pemikiran kaum sufi tersebut. Sedangkan kehadiran tarekat
di Indonesia sama tuanya dengan kehadiran Islam. Namun hanya ada beberapa
tarekat yang bisa masuk dan berkembang di Indonesia.
Dalam perkembangannya,
tarekat-tarekat terpecah menjadi banyak sesuai guru dan keadaan lingkungan
masing-masing. Ada 41 macam tarekat-tarekat yang dianggap sah, adapun yang
berkembang di Indonesia antara lain:
1. Tarekat Qadiriyah
2. Tarekat Syadziliyah
3. Tarekat Naqsyabandiyah
4. Tarekat Khalwatiyah
5. Tarekat Syattariyah
6. Tarekat Sammaniyah
7. Tarekat Tijaniyah
8. Tarekat Qadiriyah wa
Naqsyabandiyah
B.
SARAN
Dalam memahami tarekat tidak cukup
hanya dengan mempelajari sekilas saja. Karena seluk-beluk tarekat sangatlah
rumit dan penuh dengan teka-teki. Sebab ruang lingkup tarekat adalah spiritual
yang tidak bisa dipelajari kecuali dengan pengalaman batiniyah tersendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Atjeh, Aboebakar,
1985. Pengantar Ilmu Tarekat (Uraian Tentang Mistik). Solo:
Ramadhani.
Burhani, Ahmad Najib,
2002. Tarekat tanpa Tarekat. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
Mulyati, Sri, dkk,
2005. Mengenal dan Memahami Tarekat-tarekat Muktabarah di
Indonesia. Jakarta: Kencana.
Said, H.A. Fuad, 2005. Hakikat
Tarikat Naqsyabandiyah. Jakarta: Pustaka Al Husna Baru.
Sila, Muh. Adlin, dkk,
2007. Sufi Perkotaan: Menguak Fenomena Spiritualitas di tengah Kehidupan
Modern. Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama.
Thohir, Ajid, 2002. Gerakan
Politik Kaum Tarekat: Telaah Historis Gerakan Politik Antikolonialisme Tarekat
Qodiriyah-Naqsabandiyah di Pulau Jawa. Bandung: Pustaka Hidayah.
[1] Prof Rosihon Anwar M.Ag, Akhlak
tasawuf, CV Pustaka setia, Bandung 2010
[3] Ahmad Mansur Suryanegara,Menemukan Sejarah
Rencana Pergerakan Islam di Indonesia,Mizan Cet IV, 1998 hlm 73
[4] Ajid
Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam Jakarta:Rajawali
Press,
[5] Azyumardi
Azra, Islam di Asia Tenggara : Pengantar Pemikiran dalam Azyumardi
Azra(Peny), Perpektif Islam diAsia Tenggara, Jakarta, Yayasan Obor
Indonesia, 1989.hlm
XIV , Lihat Juga Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam”,
Bandung:Pustakla Bani Quraisy, Cet II,1995, hlm 222
[6] H.M
Laili Mansur, Ajaran dan Teladan para sufi, (Jakarta: Srigunting, 1996)
hlm 204
Tidak ada komentar:
Posting Komentar