Senin, 24 Desember 2018

Artikel sekolah Tafsir klasik


PERKEMBANGAN SEKOLAH-SEKOLAH TAFSIR PADA MASA TABI’IN

Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ Tabi’tidak dipungkiri lagi dalam literatur agama Islam bahwasanya mereka dikenal dengan diktum “sebaik-baiknya generasi”, hal inilah yang di fahami oleh jumhur ulama dengan merujuk kepada hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari[1]. Sepeninggalan Nabi dan para sahabat, generasi setelahnya atau yang biasa dikenal dengan sebutan Tabi'in[2].
Setelah masa Tabi'in berakhir, maka diteruskan dengan masa Tabi'it tabi'in atau generasi ketiga umat Islam setelah Nabi Muhammad wafat. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam karyanya Taqrib at-Tahdzib membagi para Tabi'in menjadi empat tingkatan berdasarkan usia dan sumber periwayatannya, yaitu:
        1.          Para Tabi'in kelompok utama/senior (kibar at-tabi'in), yang telah wafat sekitar tahun 95 H/713 M. Mereka seangkatan dengan Said bin al-Musayyab (lahir 13 H - wafat 94 H),
        2.          Para Tabi'in kelompok pertengahan (al-wustha min at-tabi'in), yang telah wafat sekitar tahun 110 H/728 M. Mereka seangkatan dengan Al-Hasan al-Bashri (lahir 21 H - wafat 110 H) dan Muhammad bin Sirin (lahir 33 H - wafat 110 H),
        3.          Para Tabi'in kelompok muda (shighar at-tabi'in) yang kebanyakan meriwayatkan hadis dari para Tabi'in tertua, yang telah wafat sekitar tahun 125 H/742 M. Mereka seangkatan dengan Qatadah bin Da'amah (lahir 61 H - wafat 118 H) dan Ibnu Syihab az-Zuhri (lahir 58 H - wafat 124 H),
        4.          Para Tabi'in kelompok termuda yang kemungkinan masih berjumpa dengan para Sahabat Nabi dan para Tabi'in tertua walau tidak meriwayatkan hadis dari Sahabat Nabi, yang telah wafat sekitar tahun 150 H/767 M. Mereka seangkatan dengan Sulaiman bin Mihran al-A'masy (lahir 61 H - wafat 148 H).
Umat muslim dari zaman ke zaman, meraka selalu meyakini salah satu term bahwa Al-Quran shãlih li kulli zamãn wal makãn (Kerelevanan Al-Quran selalu ada bagi setiap waktu dan tempat)[3]. Setidaknya keyakinan tersebut dapat dilihat dari latar belakang sebagi berikut[4]:
1.      Bukti kebenaran Risãlah (Kerasulan) Muhammad Saw. atas apa yang disampaikan  oleh Muhammad saw dari Allah Swt, yang dengan Al-Quran ini Nabi dapat mengalahkan musuh-mushnya.
2.      Al-Quran adalah al-hudã (Panduan Hidup) bgi manusia yang menjamin keselamatan manusia dunia dan akhirat, lahir dan batin, material spiritual. Lebih-lebih apabila difahami 55 nama Al-Quran[5] yang sekaligus menjelaskan fungsinya, sebagai penjelasan dari inti al-hudã.
3.      Al-Quran sebagai wasīlah (media penghubung) ibadah ritual yang mendekatkan dan menghubungkan seseorang dengan kholiqnya. Dengan membaca Al-Quran juga kita bias langsung berdialog langsung dengan-Nya tanpa harus melalui perantara.

A.  SUMBER PENAFSIRAN PADA MASA TABI’IN
Sumber penafsiran pada masa tabi’in tidak jauh berbeda dengan sumber penafsiran pada masa sahabat kecuali ada tambahan satu bahwa tabi’in menjadikan qaul sahabat sebagai sumber penafsiran mereka, yaitu sebagai berikut:[6]
        1.          Alquran
        2.          Sunnah Nabi
        3.          Sahabat
        4.          Bahasa
        5.          Ahlul Kitab
        6.          Ijtihad
B.  MUFASSIR PADA MASA TABI’IN
Pada masa tabi’in, ada tiga sekolah/madrasah yang terkenal, yaitu:
        1.     Sekolah Ibn Abbas di Mekkah
Banyak ulama tafsir terkenal di kalangan tabi’in. Namun thabaqah ulama Mekkah mereka adalah murid-murid Ibn Abbas telah menempati posisi terdepan di bidang ini. Mereka adalah orang-orang yang paling mengerti tentang tafsir, sebagaimana disebutkan oleh Ibn Taimiyyah. Murid Ibn Abbas yang paling populer ada lima, yaitu:
a)        Mujahid ibn Jabr
Ia adalah Mujahid ibn Jabr al-Makki Maula al-Sa’ib ibn Abi al-Sa’ib, murid Ibn Abbas paling tsiqah r.a. Ia adalah imam yang tsiqah, alim dan ahli ibadah. Tafsirnya digunakan oleh Imam Syafi’i, Imam Bukhari dalam Shahih-nya danMujahid adalah orang yang paling alim pada masanya dalam bidang tafsir. Diriwayatkan bahwa ia berkata: “Aku menyodorkan bacaan Al-Qur’an kepada Ibn Abbas sebanyak tiga puluh kali.” Ada juga riwayat yang menyatakan tiga kali saja. Tidak ada pertentangan antara kedua riwayat ini, penyodoran pertama yang sampai 30 kali adalah untuk hapalan, bacaan dan tajwid. Sedang penyodoran yang kedua adalah untuk penafsiran dan penghayatan kandungannya. Mujahid berkata, aku menyodorkan Al-Qur’an kepada Ibn Abbas tiga kali. Di setiap ayat aku berhenti menanyakan maknanya, mengenai apa ia turun dan bagaiman ia turun.[7]
b)        Sa’id ibn Jubair
Ia adalah Muhammad Sa’id ibn Jubair ibn Hisyam al-Asadi, berasal dari Habasyah. Ia mempunyai banyak sahabat dan mengambil dari imam-imam dari kalangan mereka. Yang terpenting adalah Ibn Abbas dan Ibn Mas’ud. Ia termasuk pemuka dan imam tabi’in. Ia sangat menguasai tafsir, hadist dan fiqh. Ia telah berguru kepada Ibn Abbas dan mengambil Al-Qur’an dan tafsir darinya. Di samping menghimpun qira’ah-qira’ah yang kuat dari para sahabat dan menggunakan bacaan-bacaan itu.
Kemampuan qira’ah seperti itu telah memberinya keluasan untuk memahami Al-Qur’an, mengetahui makna-maknanya dan mencermati rahasia-rahasianya. Namun demikian, ia menahan diri dari mengemukakan pendapatnya sendiri. Ini membuat sebagian ulama lebih mendahulukan tafsirnya dibanding tafsir Mujahid dan murid-murid Ibn Abbas lainnya. Qatabadah rahimahullah mengatakan bahwa Sa’id adalah tabi’in mengerti tafsir.
c)        Ikrimah
Ia adalah Abu Abdillah Ikrimah al-Barbari al-Madani Maula Ibn Abbas, berasal dari Barbar kawasan Maghrib. Ia termasuk tabi’in pilihan dan pembesar mufasissirin dan ulama yang mengamalkan ilmunya. Ia meriwayatkan dari Ibn Abbas, Ali ibn Abi Thalib, Abu Hurairah dan lain-lain. Ia juga berkelana ke berbagai negara. Ia pernah pergi ke Afrika dan berkunjung ke Yaman, Syam, Irak dan Khurasan untuk menyebarkan ilmunya.
Ia telah mencapai derajat yang tinggi dalam bidang keilmuan, khususnya dibidang tafsir. Hubaib ibn Abi Tsabit Hubaib berkata, telah berkumpul dihadapanku lima orang yang belum pernah aku jumpai orang yang semisal mereka, yaitu Atha’, Thawus, Sa’id ibn Jubair, Ikrimah dan Mujahid. Sa’id dan Mujahid melemparkan pertanyaan-pertanyaan kepada Ikrimah. Keduanya tidak bertanya tentang tafsir kecuali ditafsirkannya. Ketika pertanyaan keduanya habis, Ikrimah berkata, ayat ini turun berkenaan dengan masalah ini, sedang ayat itu turun berkenaan dengan masalah ini.
Di anatara pujian orang kepadanya adalah perkataan Jabir ibn Zaid bahwa Ikrimah adalah orang yang paling alim. Juga perkataan al-Syafi’i: Tidak ada orang yang lebih tahu tentang Kitabullah dibanding Ikrimah. Dan masih banyak komentar-komentar yang memujinya dan menunjukkan status ilmiahnya. Meski demikian, ulama berbeda pendapat berkenaan dengan ke-tsiqah-annya. Sebagian mengatakan ia adalah tsiqah, sedang yang lain mengatakan ia tidak tsiqah. Tak seorang pun mencela keadilannya. Imam al-Bukhari berkata: Tidak seorang pun rekan kami yang tidak berhujjah dengan Ikrimah.
d)        Atha’ ibn Abi Rabah
Ia adalah Abu Muhammad ibn Atha’ ibn Abi Rabah al-Makki, salah seorang maula Quraisy. Ia termasuk pemuka tabi’in. Ia meriwayatkan dari sejumlah besar sahabat Rasulullah SAW., antara lain Ibn Abbas, Ibn Umar dan Ibn Amr ibn al-Ash. Bahkan ia pernah bercerita bahwa ia menjumpai sekitar dua ratus sahabat. Ia adalah orang yang tsiqah, faqih dan alim. Ia meriwayatkan banyak hadist. Di Mekkah puncak fatwa kembali kepadanya dan ia hidup hampir seratus tahun.
Abdul Aziz ibn Rafi’ berkata, Atha’ ditanya tentang suatu masalah, lalu ia menjawab, aku tidak tahu. Dikatakan kepadanya: Mengapa engaku tidak menjawab dengan pendapatmu sendii? Ia berkata, aku malu kepada Allah mengemukakan pendapatku sendiri di muka bumi ini. Ia meninggal pada tahun 124 H, menurut pendapat yang paling kuat.
e)      Thawus ibn Kaisan al-Yamani
Nama lengkapnya adalah Abu Abdurrahman Thawus ibn Khaisan al-Yamani, orang pertama dari thabaqah Yaman dari kalangan tabi’in, berasal dari Persi. Kisra mengirimkannya ke Yaman. Lalu ia tinggal disana dan menjadi ahli ilmu dan amal. Ia menjumpai sekitar lima puluh sahabat Nabi SAW. Sebuah riwayat menyatakan bahwa ia berhaji sebanyak empat puluh kali. Ia mustajab do’anya. Ibn Abbas r.a. berkata, saya menduga, Thawus adalah penghuni surga. Ia juga meriwayatkan dari empat Abdullah dan yang lain. Namun sejak awal ia adalah murid Ibn Abbas, karena ia meriwayatkan dari Ibn Abbas lebih banyak dibanding dari yang lain. Ia merupakan ayat di bidang ilmu, ibadah, zuhud dan takwa. Ia juga menjadi ahli ibadah yang zahid sampai wafat tahun 106 H.

2.     Sekolah Ibn Mas’ud di Kufah
Seperti halnya di Mekkah muncul bintang yaitu Ibn Abbas. Di Irak muncul bintang lain yaitu Abdullah ibn Mas’ud yang diberi kepercayaan oleh Umar untuk memimpin Kufah.
Di tangannya muncul sejumlah tabi’in terkemuka, diantaranya :
a)    ‘Alqamah ibn Qais
Ia lahir disaat Rasulullah SAW masih hidup. Ia meriwayatkan dari Umar, Utsman, Ibn Mas’ud dan lain-lain. Ia termasuk periwayat paling populer dari Ibn Mas’ud. Banyak ulama yang menilainya tsiqah. Imam Ahmad berkata, ia seorang tsiqah dari ahli kebaikan. Ia ada di al-Kutub al-Sittah. Ia meninggal pada tahun 61 atau 62 H.
b)   Masruq ibn al-Ajda’ ib Malik ibn Umayyah al-Hamdzani al-Kufi al-Abid
Ia seorang yang wara’ dan zahid. Ia banyak menyertai Ibn Mas’ud, disamping meriwayatkan pula dari Khulafa’urrasyidin dan yang lain. Ia imam di bidang tafsir, alim terhadap Kitabullah. Banyak ulama yang menilainya tsiqah. Ibn Ma’in berkata, ia tsiqah, la yus’al ‘anbu (tidak dipertanyakan). Al-Qadli Syuraih meminta pertimbangannya dalam memutuskan masalah-masalah penting. Yang meriwayatkan darinya adalah al-Sya’bi, Abu Wa’il dan yang lain karena kejujuran riwayatnya. Para penulis al-Kutub al-Sittah juga mentakhrijnya. Ia wafat pada tahun  63 H.
c)         Al-Aswad ibn Yazid ibn Qais al-Nakha’i (Abu Abdirrahman)
Ia termasuk pembesar tabi’in dan termasuk periwayat Ibn Mas’ud. Ia meriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, Ali, Hudzaifah, Bilal dan yang lain. Ia tsiqahsaleh, mengena Kitabullah. Banyak ulama yang menilainya tsiqah. Para penulis al-Kutub al-Sittah juga mentakhrijnya. Ia meninggal di Kufah tahun 74 atau 75 H.
d)      Murrah al-Hamadzani
Ia adalah Abu Isma’il Murrah ibn Syarahil al-Hamadzani al-Kufi al-Abid, yang dikenal dengan Murrah al-Thayyib dan Murrah al-Khair karena banyak ibadah, sangat wara’ dan sangat takwa. Ia meriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, Ubai ibn Ka’b, Abdullah ibn Mas’ud dan yang lain. Yang meriwayatkan darinya adalah al-Sya’bi dan yang lain. Yang meriwayatkan darinya adalah al-Sya’bi dan yang lain. Banyak ulama yang menilainya tsiqah. Ia di takhrij oleh para penulis al-Kutub al-Sittah. Ia wafat tahun 76 H.
e)      Amir al-Sya’bi
Ia adalah Abu Amr Amir ibn Syarahil al-Sya’bi al-Himyari al-Kufi al-Tabi’i al-Jalil Qadli Kufah. Ia meriwayatkan dari Umar, Ali dan Abdullah ibn Mas’ud, meski ia tidak mendengar langsung dari mereka. Ia juga meriwayatkan dari Abu Hurairah, Aisyah, Ibn Abbas, Abu Musa al-Asy’ari dan lain-lain.
Meski banyak ilmu, ia sangat berhati-hati untuk mentakwilkan Kitabullah dengan pendapatnya sendiri. Ibn Athiyyah berkata, sejumlah ulama salaf, seperti Sa’id ibn al-Musayyab dan Amir al-Sya’bi sangat mengagungkan tafsir Al-Qur’an dan mereka menahan diri dari menafsirkannya dengan pendapat mereka karena sikap hati-hati. Tiga hal yang aku tidak akan mengeluarkan pendapatku sampai aku mati yaitu         Al-Qur’an, ruh dan ra’yu. Ia wafat tahun 109 H menurut pendapat yang masyhur.
f)       Al-Hasan al-Bashri
Ia adalah Abu Sa’id al-Hasan al-Bashri ibn Abi al-Hasan Yassar al-Bashri maula al-Anshar. Ibunya adalah Khayyirah muala umm Salamah. Ia lahir setelah kekhalifahan Umar ibn al-Khaththab.
Ia meriwayatkan dari Ali, Ibn Umar, Anas dan sejumlah sahabat dan tabi’in. Ibn Sa’d berkata, ia tsiqah ma’mun, ilmuwan yang agung, fashih, tampan, bertakwa dan bersih hatinya. Sampai dikatakan bahwa ia adalah tuan kalangan tabi’in. Hadistnya ada di al-Kutub al-Sittah. Ia wafat tahun 110 H dalam usia 88 tahun.
g)      Qatadah ibn Di’amah al-Sadusi
Nama kun-yahnya Abu al-Khaththab al-Akmah, keturunan Arab, tinggah di Bashrah. Ia termasuk periwayat Ibn Mas’ud, disamping meriwayatkan dari Anas ibn Malik, Abu al-Thufail, Ibn Sirin, Ikrimah, Atha’ ibn Abi Rabah dan yang lain. Ia memiliki daya hapal yang kuat, luas wawasannya dibidang syair dan memahami benar sejarah Arab, silsilah mereka dan menguasai bahasa Arab fashih. Karena ia sangat pandai dan bidang tafsir dan banyak ilmu. Abu Hatim berkata, aku mendengar Ahmad ibn Hanbal, dan ia menuturkan Qatadah, lalu ia memujinya panjang lebar, lalu ia membeberkan ilmunya, fiqihnya dan pengetahuannya tentang berbagai pendapat dan tafsir serta menilainya hafidh da faqih, lalu berkata, sedikit sekali engkau bisa menemui orang yang melebihinya, kalu sepadan mungkin saja. Ia wafat tahun 117 H dalam usia 56, menurut pendapat yang masyhur.
3.     Sekolah Tafsir di Madinah
Adapun di Madinah al-Munawwarah, tempat memancarnya hidayah dan menancapnya iman, maka ustadz kaum tabi’in disana adalah seorang sahabat agung Ubai ibn Ka’b. Ditambah sahabat-sahabat lain yang memilih tetap tinggal di Dar al-Iman.
Dari kalangan tabi’in yang terkenal dibidang tafsir di Madinah ada tiga, yaitu[8]:
a)    Abu al-Aliyah adalah Rafi’ ibn Mihran al-Rayyabi maula al-Rayyabi
Ia msuk Islam dua tahun setelah Rasulullah SAW wafat. Ia termasuk periwayat Ubai ibn Ka’b dan yang lain. Yang meriwayatkan darinya adalah al-Rabi’ ibn Anas, seorang tabi’i tsiqah. Banyak ulama memberikannya kesaksian akan keilmuannya dan keutamaannya. Para penulis al-Kutub al-Sittah telah menyepakatinya. Ia wafat tahun 90 H, menurut pendapat yang paling kuat.
b)   Muhammad ibn Ka’b al-Quradhi
Ia telah meriwayatkan dari Ali, Ibn Mas’ud dan Ibn Abbas, di samping meriwayatkan dari Ubai ibn Ka’b dengan wasithah (perantara). Ia dikenal tsiqah, adil dan wara’. Ia alim dibidang hadis dan takwil Al-Qur’an. Ibn Aun berkata, aku belum pernah melihat orang yang lebih alim tentang takwil Al-Qur’an dibanding al-Quradhi. Ibn Hibban berkata, ia termasuk pemuka warga Madinah dalam hal ilmu dan keagamaan. Ia ditakhrij oleh penulis al-Kutub al-Sittah. Ia wafat tahun 118 H.
c)    Zaid ibn Aslam
Ia adalah Abu Usamah atau Abu Abdillah al-Adawi al-Madani al-Faqih al-Mufassir Maula Umar ibn al-Khaththab. Ia termasuk pemuka tabi’in dan termasuk imam tafsir. Ulama memberikan kesaksian akan ke-tsqah-an dan keadilannya. Ia memiliki banyak ilmu dan tidak segan-segan menafsirkan Al-Qur’an dengan ra’yunya. Banyak yang mengambil tafsir darinya, yang terkenal di antaranya adalah putranya, Abdurrahman dan Malik ibn Anas Imam Dar al-Hijrah. Ia wafat tahun 136 H.
Mereka itulah para mufasir terkemuka dari kalangan tâbi‘în di sejumlah kota-kota Islam dengan ragam tingkatan kemampuan mereka. Tidak ragu lagi bahwa sekolah Ibn ‘Abbâs mengemban panji kepeloporan di bidang tafsir, sehingga Ibn Taimîyah pernah mengatakan bahwa yang paling menguasai tafsir adalah ulama Mekkah, karena mereka telah berguru kepada Ibn „Abbâs. Ulama-ulama yang dimaksud adalah Mujâhid, ’Atâ b. Abî Rabâ ,Ikrimah, Saîd b. Jubayr, dan Tâwûs.[9]

C.  CONTOH PENAFSIRAN PADA MASA SAHABAT

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali-Imran; 135)

Penafsiran kata muttaqin dalam ayat di atas, dengan menggunakan kandungan ayat berikutnya menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun maupun diwaktu sempit, dan orang-orang yang memaafkan. Contoh lain, Mujahid dengan beberapa sarjana segenerasinya memberikan interpretasi ayat-ayat al-Qur'an yang dijadikan sebagai pijakan penafsiran metaforis terhadap teks keagamaan. Salah satu contohnya adalah penafsiran Mujahid terhadap al-Baqarah ayat 65:
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ
Artinya: “Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu kami berfirman kepada mereka, “jadilah kamu kera yang hina”.
Frasa “jadilah engkau kera yang hina” oleh Mujahid tidak diartikan secara fisik bahwa orang berubah wujud menjadi kera, akan tetapi hanya perilakunya. Hal ini disebabkan kalimat tersebut merupakan permisalan, matsal, yang dipakai oleh Tuhan, seperti halnya dalam al-Jumu'ah ayat 5:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا.....

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan taurat kepadanya, kemudian mereka tidak memikulnya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal”. (Qs. Jumu’ah: 5)

Perbedaan yang terjadi di dalam metode penafsiran tabiin,[10] diantarannya adalah:
1.    Berbeda lafazh, bukan makna
Hal  seperti ini tidak memiliki pengaruh terhadap makna ayat. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا 

Artinya: “Dan tuhanmu telah memerintahkan suapaya kamu jangan meyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik”. (QS. Al-Isra: 23)
Mengucapkan kata “ah” kepada orang tua tidak dibolehkan oleh agama apalagi megucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar dari pada itu.
Ibn Abbas berkata, “makna qadla adalah amara (memerintah). “Mujahid berkata, “maknanya adalah washsha (berwasiat).” Ar Rabi’ Bin Anas berkata, “maknanya adalah wajaba (mewajibkan)”. Penafsiran-penafsiran seperti ini maknanya sama atau mirip sehingga tidak ada pengaruhnya perbedaan.
2.    Berbeda lafaz dan makna
Dalam hal ini, ayat (yang ditafsirkan) dapat menerima (mencakupi) kedua makna tersebut karena tidak bertentangan (kontradiksi). Artinya, ayat tersebut dapat diarahkan kepada kedua makna tersebut dan ditafsirkan dengan keduanya sehingga sinkronisasi terhadap perbedaan ini adalah bahwa maisng-masing dari kedua pendapat tersebut hanya diketengahkan sebgai contoh/ permisalan terhadap apa yang dimaksud ayat tersebut atau dalam rangka variasi saja.
وَّكَأْسً دِهَاقًا
Contoh lainnya, firman-Nya, “Dan gelas-gelas yang penuh )berisi minuman( (QS. An-Naba: 34)
Ibn abbas berkata, “makna dihaqa adalah penuh.” Mujahid berkata, “maknanya adalah berurutan (teratur).” Ikrimah berkata, “maknanya adalah bening”.[11] Sinkronisasi terhadap pendapa-pendapat ini adalah dengan mengarahkan ayat kepada seluruh pendapat tersebut sebab ia bisa menerimanya (mencakupinya) tanpa menimbulkan pertentangan (kotransiksi) sehingga seakan masing-masing pendapat itu hanya diketengahkan sebagai contoh atau pemisal.
Dalam hal contoh diatas penulis papar hanya sebagai sampel saja, agar kita mengenal bagaimana metode tabi’in dalam menafsirkan Al-Qur’an. Perlu kita ketahui juga bahwa Tabi’in tidak menafsirkan secara langsung dan keselurahan ayat Al-Quran lalu ditulis, akan tetapi orang lain yang mengumpulkannya semua pendapat tabiin lalu dikitabkan. Maka tabi’in tidak punya karangan kitab khusus tafsir, yang seperti pada periode tafsir modern dan kontemporer sekarang.



















Daftar pustaka
Baidan, Nashruddin, Perkembangan Tafsir Al-Qur'an Di Indonesia. (Tiga Serangkai: 2003)



[1] Hadis Nomor 2457 dalam Bab Tidak boleh bersaksi palsu; Nomor 3377 dalam Bab Keutamaan Sahabat Nabi; nomor 3415 dalam Bab Waspada dari gemerlap dunia; Nomor 6201 dalam Bab Dosa bagi yang tidak membayar nazar. 
[2] Dalam literature Arab kata Tabi’in sendiri terambil dari kata (Arabالتابعونpengikut), adalah orang Islam awal yang masa hidupnya setelah para Sahabat Nabi dan tidak mengalami masa hidup Nabi Muhammad. Usianya tentu saja lebih muda dari Sahabat Nabi, bahkan ada yang masih anak-anak atau remaja pada masa Sahabat masih hidup. Sebagaimana Baidan, Nashruddin mengungkapkan dalam bukunya, Perkembangan Tafsir Al-Qur'an Di Indonesia hlm. 10. Menyatakan bahwa;Tabi'in merupakan murid Sahabat Nabi. Masa Tabi'in dimulai sejak wafatnya Sahabat Nabi terakhir, Abu Thufail al-Laitsi, pada tahun 100 H (735 M) di kota Mekkah; dan berakhir dengan wafatnya Tabi'in terakhir, Khalaf bin Khulaifat, pada tahun 181 H (812 M)
[3] Dra. Hj. Yayan Rahmatika, M.Ag Dan Dadan Rusmana, M.Ag, Metodologi Tafsir Al-Quran Strukturalisme, Semantik, Semiotik Dan Hermeneutik, Pustaka Setia, Bandung, 2013, Hlm. 8
[4] KH. Drs. Muchtar Adam, Ulumul Quran Studi Perkembangan Pesantren Al-Quran, Makrifat Media Utama, Bandung, Tth, Hlm. 5
[5] Abul Ma’ali Syaizalah dalam kitabnya  Al-Burhan fi Musykilatil Quran, dialah yang pertama kali menyatakan nama-nama Al-Quran dengan 55 nama, sesuai dengan Firman Allah yang diterangkan dalam berbagai ayat Al-Quran. 
[6] At-thayyar, Musaid Bin Sulaiman, Fushulun Fi Ushul At-tafsir, Daar Ibn Al-Jauzi: 1999 M, Hlm. 39.
[7] Az-Zahabi, Muhyiddin, At-tafsir wal Mufassirun Juz 1, Maktabah Wahbah: Cairo. Hlm. 79.
[8] Yunus Hasan Abid, Tafsir al-Qur’an: Sejarah Tafsir dan Metode Para Mufasir (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), 35
[9] Ibid., 36.
[10] Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin, Ushul Fi At-Tafsir, h.30-31
[11] Wahbah Zuhaili, Al-tafsir Al-Munirfi Al-‘Aqidah Wa Al-Syri’ah Wa Al-Manhaj, Juz 9. (Bairut: Dar Al-Fikri)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar