Senin, 24 Desember 2018

makalah Semantik (Keistimewaan Bahasa Arab)



{MAKALAH}



Oleh
Parid Maulana
1161030137




BANDUNG
2018 M/1439 H






KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah Swt, Zat yang menjadi sumber segala kebaikan dan kesenpurnaan. Atas kasih sayang, petunjuk dan pertolonganNya, akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Keistimewaan Bahasa Arab”. Semoga Solawat beserta salam selalu terlimpah curahkan kepada panutan umat mausia baginda Rasulullah, Muhammad Saw, keluarganya, para sahabatnya dan seluruh umatnya.
Kami sebagai penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, sebab pada beberapa bagian dalam kajian makalah ini masih banyak menyisakan persoalan yang penting diselesaikan dan tidak menutup kemungkinan mengandung kekurangan dan kekeliruan dikarenakan keterbatasan tulisan kami. Oleh sebab itu, saran atau masukan dari berbagai pihak dalam rangka untuk melengkapi dan memperbaiki berbagai kekeliruan dan kekurangan dalam tulisan ini merupakan sesuatu yang sangat dinantikan.


Bandung, 14 November 2018




                                                                                                Penulis



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
1.1        Latar Belakang
1.2        Rumusan Masalah
PEMBAHASAN
2.1        Asal-Usul Bahasa Arab
2.2        Kaitan Bahasa Arab Dengan Al-Qur’an
2.3        Keistimewaan Bahasa Arab Sebagai Bahasa Al-Quran
KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
















PENDAHULUAN

1.1             Latar Belakang

Bahasa adalah alat penyampaian informasi yang paling efektif. Bahasa sebagai salah satu media komunikasi untuk manusia, yakni berfungsi menghubungkan suatu individu dengan individu lainnya, meskipun terkadang terdapat perbedaan bahasa namun manusia mempunyai bahasa pemersatu untuk melakukan komunikasi.
Salah satu bahasa yang digunakan oleh banyak orang, terlebih di kalangan para pelajar adalah Bahasa Arab. Bahasa arab merupakan salah satu bahasa tertua di dunia. Dalam agama Islam, selain menjadi bahasa Alquran yang hari ini dibaca oleh semua umat muslim di seluruh dunia, Bahasa arab juga menjadi bahasa para penduduk surga.
Sebagai sebuah bahasa, tentu bahasa arab memiliki keistimewaan tersendiri sehingga terpilih menjadi bahasa Alquran, dan bahasa penduduk surga. Oleh karena itu, penulis tertarik pada kesempatan ini menulis sebuah makalah yang berjudul keistimewaan bahasa arab.

1.2             Rumusan Masalah

Sebagaimana yang telah dipaparkan diatas maka akan membatasi pembahasan di dalam makalah ini, yaitu:
1.         Asal-Usul Bahasa Arab
2.         Kaitan Bahasa Arab dengan Al-Qur’an
3.         Kestimewaan Bahasa Arab Sebagai Bahasa Al-Qur’an


PEMBAHASAN

2.1              Asal-Usul Bahasa Arab

Bahasa adalah ألفاظٌ يُعبرُ بها كل قومٍ عن مقاصدهم lafal yang diungkapkan oleh setiap kaum masyarakat untuk mengungkapkan maksud mereka.
Kesusastraan Arab (al-Adab al-Araby)  merupakan kesusastraan terkaya. Bahasa Mudlor, setelah masa Islam, bukan hanya menjadi bahasa suatu bangsa saja, tetapi menjadi bahasa bagi semua bangsa yang masuk ke dalam agama Allah (Islam), atau berada di bawah lindungan-Nya. Mereka menciptakan makna-makna dan konsep-konsep, serta memperluas makna-makna dengan bantuan rahasia-rahasia bahasa mereka.
Kemudian mereka menjelajah ke pelosok bumi dengan membawa agama, sastra, budaya, dan ilmu. Lalu mereka berakulturasi dengan setiap bahasa yang di datanginya, serta menyebarluaskan ilmu pengetahuan orang-orang masa lampau dan peradaban orang-orang-orang terdahulu, dari bangsa-bangsa Yunani, Persia, Yahudi, Hindu, dan Habsyi. Bahasa bangsa-bangsa dengan beraneka ragam perbedaannya, bagaikan parit-parit dan sungai-sungai yang mengalir, lalu bercabang-cabang, kemudian berhimpun dan bermuara pada satu samudera, yaitu bahasa Arab.
Bahasa Arab merupakan bahasa tertua di dunia. Teori yang menjelaskan awal munculnya bahasa Arab yaitu:
1.    Manusia pertama yang melafalkan bahasa Arab adalah Nabi Adam a.s, karena sebelum turun ke bumi adalah penduduk surga, sedangkan bahasa penduduk surga adalah bahasa Arab.
2.    Schlozer, seorang tokoh orientalis berkata bahwa bahasa Arab termasuk rumpun Semit, yang di ambil dari tabel pembagian bangsa-bangsa di dunia dalam kitab Perjanjian Lama. Nama semit di ambil dari tiga orang putera nabi Nuh yaitu Syam, Ham dan Yafis.
Bahasa Arab terbagi menjadi dua yaitu bahasa Arab Selatan (Himyaria) yang digunakan di Yaman dan Jazirah Arab Tenggara. Bahasa Himyaria ini terbagi dua menjadi bahasa Sabuia dan Ma’inia, yang ditemukan abad 12 SM-6M. Bahasa Arab Utara adalah bahasa wilayah tengah Jazirah Arab dan Timur Laut (Bahasa Arab Fusha) yang hingga kini dan masa yang akan datang tetap dipakai karena Al-Quran turun menggunakan bahasa ini.
Pada masa pra-Islam atau yang lebih dikenal dengan jaman jahiliyah– bahasa Arab mulai mencapai masa puncaknya (prime condition). Hal ini diawali dengan keberhasilan orang-orang Arab Badui di bawah pimpinan suku Quraisy menaklukan penduduk padang pasir, sehingga mulai saat itu bahasa Arab dijadikan bahasa utama dan mempunyai kedudukan yang mulia di tengah kehidupan masyarakat sahara.
Islam datang dengan diutusnya Nabi Muhammad SAW saat itulah al-Qur’an diturunkan, tentu saja menggunakan bahasa Arab yang paling sempurna/baku dengan keindahan retorika dan kedalaman makna yang tak tertandingi. Allah -Subhânahu wa Ta’âla- tidak menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur’an melainkan karena ia adalah bahasa terbaik yang pernah ada. Allah -Subhânahu wa Ta’âla- berfirman, “Sesungguhnya Kami telah jadikan al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kalian memikirkannya.” (Q.S. Yusuf: 2).

2.2              Kaitan Bahasa Arab Dengan Al-Qur’an

Hakikat yang tidak dapat dipertikaikan lagi bahawa bahasa Arab adalah bahasa yang dipilih oleh Allah S.W.T. sebagai bahasa al-Quran. Disebabkan sumber utama Islam tertulis dalam bahasa Arab, maka wajarlah bahasa ini dijamin terpelihara keutuhannya hingga ke akhir zaman. Islam berkembang oleh bangsa-bangsa di seluruh dunia lain selain Arab, maka bahasa Arab dipelajari oleh mereka yang disebabkan karena perniagaan antar mereka. Tidak heran jika banyak bermunculan ahli-ahli linguistik Arab yang bukan berasal dari bangsa Arab.  Allah S.W.T. berfirman:
Artinya: “Sesungguhnya Kami jadikan Kitab itu sebagai Quran yangditurunkan dengan bahasa Arab, supaya kamu (menggunakan akal) memahaminya.”

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa hukum mempelajari bahasa Arab adalah wajib. Karena sumber hukum islam yang paling utama-al-Qur’an yang  diturunkan dalam bahasa Arab dan tidak bisa difahami kecuali hanya dengan bahasa itu.
Keterkaiatan nya bahwa al-Qur’an merupakan faktor dasar yang berkembangnya ilmu-ilmu gramatikal dalam bahasa Arab seperti sharaf, Nahwu, dan Balaghah. Hal ini karena al-Qur’an tidak mungkin bisa difahami kecuali dengan bahasa Arab.
Walaupun tidak dapat dinafikan bahawa bahasa Arab merupakan bahasa yang unggul sebelum kedatangan Islam lagi, tetapi al-Quran telah memberikan nafas barudan sumbangan yang besar terhadap perkembangannya. Al-Quran telah dapat memanjangkan lagi hayat bahasa ini, menyatukan kepelbagaian dialeknya dan menjadikannya sebagai bahasa intelektual dan ketamadunan. Apa yang lebih penting, al-Quran telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa yang kaya dengan kosa kata,bahasa yang utuh dengan tata bahasa dan gaya bahasanya hingga dapat mengatasi bahasa-bahasa lain.
Al-Qur’an banyak memberi lafaz-lafaz lama ke dalam bahasa Arab dengan makna yang baru. Al-Qur’an juga banyak memberikan pola-pola baru dalam bahasa Arab yang sebelumnya tidak pernah ada. Karena al-Qur;an pula-lah bahasa Arab semakin elegan

2.3              Keistimewaan Bahasa Arab Sebagai Bahasa Al-Quran

Mengenai pembahasan ini, memang masih banyak diantara orang awam, bahkan orang akademisi yang belum mengetahui, mengenai mengapa Bahasa Al-quran berbahasa Arab oleh karena itu, pembahsan kali ini akan menjelaskan alasan-alasan atau argumen mengapa demikian seperti yang menjadi pertanyaan.
Kenapa al-quran harus berbahasa Arab ?
Ada apa dengan bahasa arab, mengapa harus bahasa yang notabenenya sebagai bahasa rumit yang di pilih  Allah  untuk dijadikan bahasa “kitab” (al-quran) terlaris di dunia ini. konon katanya Al-quranlah yang paling banyak dibaca manusia setiap harinya, baik itu yang mengerti maknanya maupun yang hanya sekdar mencari pahala dari membacanya.
Bukan hanya itu saja, konon katanya pula “kitab” ini bisa menghasilkan pahala yang berlipat ganda apabila kita membacanya, walaupun membaca tanpa tahu apa maknanya.
Konon katanya lagi, dalam kitab ini mencakup semua macam ilmu pengetahuan, mulai dari filsafat, biologi, ilmu-ilmu religi sampai kepada ilmu hitung menghitung. Terlalu spesial dan teramat indahkah bahasa itu, atau memang tuhan “asal” saja menetapkan bhasa ini menjadi bahasa yang  paling tidak menjadi bahasa  yang wajib dipelajari oleh orang-orang yang menganut islam ini.
Usman bin jinni (932-1002) seorang pakar bahasa arab, mengemukakan bahwa bukanlah suatu ke-asalan tuhan menetapkan bahasa arab menjadi bahasa al-quran. Dibalik itu, ternyata menyimpan banyak falsafah mengagumkan.
Berikut akan dipaparkan keistimewaan bahsa arab sehingga menjadi bahasa al-Qu’ran:
Pertama, bahasa arab adalah satu-satunya bahasa yang memiliki keunikan tersendiri, ini bisa dilihat dari umumnya asal kata dalam bahasa ini terdiri dari tiga haruf, yang kemudian perubahannya akan merubah pula maknanya walaupun perubahan kata itu tidak sesuai dengan awalnya, tetap saja dari makna, ia memiliki kesinambungan arti. Contoh kata “qa-la” yang terambil dari huruf  kesemuanya mempunyai makna.
Namun, kesemua makna  yang berbeda itu, walaupun ada yang didahulukan atau diakhirkan, kesemuanya menganduang makna dasar yang berkaitan. Kata “qala” yang berarti berbicara mengisyaratkan gerakan yang mudah dari mulut dan lidah, karena itu pula huruf pertama yang digunakan haruslah yang bergerak, karena bukankah dia berupaya untuk berkata (berbicara) dalam arti mengerakan mulut dan lidah. Dan contoh lainnya
Kedua, bahas arab memiliki tata bahasa yang sagat rasional dan seksama, tetapi ia cukup rumit, apalagi jika dibandingkan dengan bahsa indonesia. Pakar-pakar bahsa arab tidak sekedar menerima mengaap kata yang menunjuk kepada pelaku  marfu’ dalam arti dibunyikan u/un, sementara objek pelakunya selalu mansub dalam arti dibunyikan a. Ibnn jinni, salah asatu pakarnya mengatakan bahwa alasan tersebut  rena bunyi u lebih  berat ketimbang bunyi a. Ini semua bisa diambil kesimpulan karena dalam satu kalimat satu pelaku dapat melakukan sekian banyak hal yang menjadi objeknya , maka bahasa ini memilih yang banyak untuk mudah diucapkan  ketimbang yang berat. Pemilihan dan pemilihan bunyi tersebut mutlak agar tidak timbul kerancuan dalam memahami suatu kalimat.
Ketiga, bahasa Arab memiliki kekayaan yang tidak hanya pada jenis mufrad, mutsanna dan jamak saja, tetapi juga pada kekayaan kosa kata dan sinonimnya. Contohnya dalam Dirasat fi al-Hubb, Yusuf Asy-Syaruni mengutip pendapat Ibnu Al-Jawzi dalam bukunya Dzamm al-Hawa yang menjelaskan peringkat dan macam-macam cinta serta kosakata yang menjelaskannya.
Pandangan mata atau berita yang didengar apabila melahirkan rasa senang diungkapkan dengan (‘aliqa). Jika melebihi sehingga muncul keinginan untuk mendekat, ia dinamai (mail). Lalu jika keinginan itu mencapai tingkatan untuk menguasainya, maka dinamakan (mawaddah).
Tingkat selanjutnya ialah (mahabbaah), (khullah), (al-shababah), kemudian (al-hawa). Peringkat berikutnya adalah (al-‘isyq) artinya apabila seseorang rela berkorban demi kekasihnya. Lalu jika hati seseroang telah dipenuhi oleh cinta, sehingga tidak ada celah bagi yang lain, maka itu dinamakan (al-tatayum). Dan jika si subjek sudah tidak bisa berpikir dan membedakan sesuatu akibat cinta ia dilukiskan dengan  (walih).
Kemudian, karena bahasa Arab merupakan bahasa yang kaya akan kosa kata. sehingga Kosa kata dalam bahasa Arab merangkumi semua bidang dan lapangan. Ia dapat diperhatikan berdasarkan kepada perkataan-perkataan yang disenaraikan dalam kamus-kamus Arab. Dalam bahasa Arab, pembentukan satu perkataan sahaja boleh menunjukkan kepada beberapa makna. Misalnya, perkataan ‘ain yang memberi makna kepada mata penglihatan, mata air, sebuah negeri, sebuah tempat, ketua kaum, ketua tentera, bermakna diri, bayaran sekali gus secara tunai, sejenis mata wang, pengintip dan huruf ‘ain.
Keempat, yang menjadi ciri khas bahasa Arab ialah memiliki i’rab. Di mana i’rab ini yang membahas akhir kata dari suatu akar dalam kalimat yang disebabkan oleh faktor ‘amil yang berbeda sehingga perbedaan ini akan mempengaruhi makna.
Perubahan-perubahan i’rab yang terjadi ini akan memberikan kesan kepada perubahan maksud perkataan dalam sesuatu susunan ayat. Analisis bahasa dan perubahan struktur frasa ini tidak terdapat dalam bahasa lain di dunia.
Kelima, bahasa Arab memiliki keunikan lainnya yaitu, dengan banyaknya kata-kata yang ambigu, bahkan satu kata atau satu huruf mempunyai dua atau tiga makna bahkan yang berlawanan.
Sebagai contoh huruf wawu, ada yang berfungsi dan ada yang tidak berfungsi. Yang berfungsi ada yang mengakibatkan kata sesudahnya majrur (berbunyi i), apabila huruf itu digunakan sebagai alat bersumpah (wallahi), dan ada juga yang mansub (bunyinya a) yang terakhir antara lain apabila diartikan bersama dan ini yang dinamai oleh pakar bahasa sebagai (wawu al-ma’iyyah).
Adapun wawu yang tidak berfungsi, maknanya pun beragam. Sebagaimana Az-Zarkasyi dalam kitabnya, al-Burhan, dinamai (isti’naf) yaitu apabila kalimat sesudah huruf tersebut tidak memiliki hubungan dengan kalimat sebelumnya baik dari segi tempat maupun i’rab.[1]
Keenam, bahasa Arab mempunyai sistem morfologi yang unik.
Bentuk-bentuk perkataan Arab ada kesamaan dalam kata nama atau kata kerja akan berubah berdasarkan kepada satu sistem yang lengkap mengikuti keadaan struktur frasa. Perubahan bentuk ini akan membawa kepada perubahan dari segi makna perkataan tersebut.
Contohnya kata فتح dapat dibentuk menjadi beberapa variasi atau bentuk seperti fatihun, maftuhun, miftahun, dan lain sebagainya.
Sistem ini telah banyak digunakan pada kamus Arab dalam pencarian makna kata, yang mana setiap perkataan perlu dirujuk pada asal kata tersebut, sebelum mencari makna kata yang dimaksud. Dengan itu, kebanyakan dari kata nama atau kata kerja akan disusuli dengan imbuhan-imbuhan tertentu, seperti  imbuhan  dengan satu huruf, dua huruf atau tiga huruf (mazid biharf, biharfaini atau bi thalathati ahruf) yang akan memberikan perubahan pada makna perkataan.
Allah menurunkan Al-Quran dengan menggunakan Bahasa Arab. Jika kita cermati kosakata yang ada dalam kitab suci tersebut, kita tidak akan menemukan kata atau istilah selain yang biasa digunakan oleh masyarakat Arab. Kalaupun ada istilah yang terlihat berbeda dari kosakata Arab pada umunya maka istilah tersebut sebenarnya merupakan istilah serapan yang sudah diterima dan digunakan secara luas oleh masyarakat Arab. Tidak ada satu kata pun dalam Al-Quran yang tidak berasal dari bahasa Arab. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal, antara lain:
1.    Rasul yang diutus untuk menyampaikan wahyu Allah itu berbangsa Arab dan masyarakat yang pertama kali menerima dakwah beliau adalah bangsa Arab.
2.    Bahasa arab adalah bahasa yang mempunyai sisitem dan susunan gramatika yang lebih sempurna dibadingkan dengan bahasa lain. Firman Allah Swt, yaitu:
 قُرْآنًا عَرَبِيًّا غَيْرَ ذِي عِوَجٍ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
“(Ialah) Al-Qur’an dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya) supaya mereka bertakwa.” (Q.S Az-Zumar : 28)

Ibnu katsir melukiskan dengan indah mengapa Al-ran diturunkan dengan bahasa Arab. Karena bahasa arab merupakan bahasa yang paling fasih,paling jelas, dan paling luas cakupannya. Allah swt menurunkan kitab yang paling mulia (asyroful kitab) itu, yaitu Al-Quran, dengan menggunakan bahasa yang paling mulia, yaitu bahasa Arab, kepada rasul yang paling mulia (asyroful lughat), yaitu bahsa arab, kepada rasul yang paling mulia (asyroful Rasul), yaitu nabi Muhammad Saw, melalui perantaraan malaikat yag paling mulia (Asyroful malaikah) dan untuk penghuni bumi yang paling mulia (asyrafu baqa’il ardhi) yaitu umat Islam.[2]
3.    Bahasa arab mempunyai kekuatan sastra yang sangat tinggi. Dimensi sastra adalah jalan yang sangat ampuh untuk menyampaikan pesan-pesan ilahi karena adanya kecenderungan manusia unntuk menyukainya. Jika kita perhatikan secara lebih seksama, Bahasa Al-Qur’an jau berbeda dengan, misalnya, bahasa yang digunakan dalam peraturan perundang-undagan. Bahasa Al-Qur’an begitu luwes dan berirama, sementara Bahasa perundang-undangan amat kering dan kaku. Kamdungan sastra dalam Al-Qur’an juga relevan dengan tradisi dan budaya masyarakat Arab waktu itu yang sangat membanggakn syair dan segala hal yang berbau sastra.
Pertanyaan yang kemudian muncul dibenak kita adalah jika Al-Qur’an menggunakan Bahasa Arab, apakah hal itu berarti Allah SWT berbicara dalam Bahasa Arab?. Allah adalah zat yang berbeda dengan makhluk yang diciptakannya (mukhalafah lil hawadits). Artinya, Allah tidak pernah memerlukan sesuatu ha sebagaimana makhluk emlakukan hal itu. Jika kita menemukan ungkapan bahwa Allah melihat, berbicara, mendengar dan lain-lain hanyalah ungkapan untuk mempermudah makhluk memahaminya.[3]
Berkenaan dengan Al-Qur’an disampaikan dengan Bahasa Arab hal itu tidak bias di artikan bahwa Allah berbicara kepada Nabi Muhammad dengan menggunakan Bahasa Arab. Disini penting bagi kita untuk memahami proses turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW.
Proses turunnya Al-Qur’an kepada Rasulullah melewati dua tahap. Tahap pertama, Al-Qur’an diturunkan  dari lauhil mahfudz, yakni suatu tempat berada di luar batas-batas dunia, ke Baitul ‘izzah, yaitu sebuah tempat dilangit dunia. Tahap kedua,  Al-Qur’an diturunkan dari langit dunia ke bumi. Turunnya Al-Qur’an dari lauhil mahfudz ke Baitul ‘izzah terjadi secara sekaligus atau dalam satu waktu, sedangkan turunnya dari Baitul ‘izzah ke dunia bertahap selama 23 tahun.
Turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad tidak terlepas dari perantaraan malaikat Jibril. Ada beberapa pendapat yang menyatakan  cara Al-Qur’an turun kepada Jibril sebelum disampaikan kepada Nabi Muhammad saw, pendapat-pendapat tersebut antara lain:[4]
1.         Jibril mengantar langsung dari Allah dengan Bahasa tertentu.
2.         Jibril menghafalnya dari lauhil mahfudz.
3.         Jibril menerima makna Al-Qur’an dari A llah dan disampaikan kepada Nabi Muhammad dengan lafaznya sendiri atau degan lafaz Nabi Muhammad saw.
Dalam kitab Mabahits fii Ulumil Qur’an  dijelaskan bahwa pendapat yang pertama adalah pendapat yang paling benar. Bahasa yang sebenarnya digunakan Allah ketika berbiacra kepada Malaikat Jibril tidak ada yang mengetahui. Namun, yang pasti karena Bahasa Arab adalah Bahasa yang dibuat oleh manusia maka tentu Allah tidak akan menggunakan bahasa tersebut ketika berkomunikasi dengan jibril.


KESIMPULAN

Bahasa Arab merupakan bahasa tertua di dunia. Teori yang menjelaskan awal munculnya bahasa Arab yaitu:
Manusia pertama yang melafalkan bahasa Arab adalah Nabi Adam a.s, karena sebelum turun ke bumi adalah penduduk surga, sedangkan bahasa penduduk surga adalah bahasa Arab.
Schlozer, seorang tokoh orientalis berkata bahwa bahasa Arab termasuk rumpun Semit, yang di ambil dari tabel pembagian bangsa-bangsa di dunia dalam kitab Perjanjian Lama. Nama semit di ambil dari tiga orang putera nabi Nuh yaitu Syam, Ham dan Yafis.
Bahasa Arab terbagi menjadi dua yaitu bahasa Arab Selatan (Himyaria) yang digunakan di Yaman dan Jazirah Arab Tenggara. Bahasa Himyaria ini terbagi dua menjadi bahasa Sabuia dan Ma’inia, yang ditemukan abad 12 SM-6M. Bahasa Arab Utara adalah bahasa wilayah tengah Jazirah Arab dan Timur Laut (Bahasa Arab Fusha) yang hingga kini dan masa yang akan datang tetap dipakai karena Al-Quran turun menggunakan bahasa ini.


DAFTAR PUSTAKA



al-Hasany, A. Z. (2007). Al-Qur’an puncak Selera Sastra. Surakarta: Ziyad Books.
Ayyasy, M. A. (2011). Hati-Hai Al-Qur’an Anda Palsu. Jakarta: Kultum Media.
Ayyasy, M. A. (2011). Hati-hati Al-Qur’an Anda Palsu. Jakarta: Qultum Media.







[1] Azzah Zain al-Hasany, “Al-Qur’an puncak Selera Sastra”, (Ziyad Books, Surakarta: 2007), hal., 95-96.
[2] Muhammad Abu Ayyasy “Hati-Hai Al-Qur’an Anda Palsu”, (Kultum Media, Jakarta: 2011), hal., 5-7
[3] Muhammad Abu Ayyasy, 2011,  Hati-hati Al-Qur’an Anda Palsu, (Jakarta: QultumMedia). Hh. 8-10
[4] Ibid., h. 10.

Artikel sekolah Tafsir klasik


PERKEMBANGAN SEKOLAH-SEKOLAH TAFSIR PADA MASA TABI’IN

Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ Tabi’tidak dipungkiri lagi dalam literatur agama Islam bahwasanya mereka dikenal dengan diktum “sebaik-baiknya generasi”, hal inilah yang di fahami oleh jumhur ulama dengan merujuk kepada hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari[1]. Sepeninggalan Nabi dan para sahabat, generasi setelahnya atau yang biasa dikenal dengan sebutan Tabi'in[2].
Setelah masa Tabi'in berakhir, maka diteruskan dengan masa Tabi'it tabi'in atau generasi ketiga umat Islam setelah Nabi Muhammad wafat. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam karyanya Taqrib at-Tahdzib membagi para Tabi'in menjadi empat tingkatan berdasarkan usia dan sumber periwayatannya, yaitu:
        1.          Para Tabi'in kelompok utama/senior (kibar at-tabi'in), yang telah wafat sekitar tahun 95 H/713 M. Mereka seangkatan dengan Said bin al-Musayyab (lahir 13 H - wafat 94 H),
        2.          Para Tabi'in kelompok pertengahan (al-wustha min at-tabi'in), yang telah wafat sekitar tahun 110 H/728 M. Mereka seangkatan dengan Al-Hasan al-Bashri (lahir 21 H - wafat 110 H) dan Muhammad bin Sirin (lahir 33 H - wafat 110 H),
        3.          Para Tabi'in kelompok muda (shighar at-tabi'in) yang kebanyakan meriwayatkan hadis dari para Tabi'in tertua, yang telah wafat sekitar tahun 125 H/742 M. Mereka seangkatan dengan Qatadah bin Da'amah (lahir 61 H - wafat 118 H) dan Ibnu Syihab az-Zuhri (lahir 58 H - wafat 124 H),
        4.          Para Tabi'in kelompok termuda yang kemungkinan masih berjumpa dengan para Sahabat Nabi dan para Tabi'in tertua walau tidak meriwayatkan hadis dari Sahabat Nabi, yang telah wafat sekitar tahun 150 H/767 M. Mereka seangkatan dengan Sulaiman bin Mihran al-A'masy (lahir 61 H - wafat 148 H).
Umat muslim dari zaman ke zaman, meraka selalu meyakini salah satu term bahwa Al-Quran shãlih li kulli zamãn wal makãn (Kerelevanan Al-Quran selalu ada bagi setiap waktu dan tempat)[3]. Setidaknya keyakinan tersebut dapat dilihat dari latar belakang sebagi berikut[4]:
1.      Bukti kebenaran Risãlah (Kerasulan) Muhammad Saw. atas apa yang disampaikan  oleh Muhammad saw dari Allah Swt, yang dengan Al-Quran ini Nabi dapat mengalahkan musuh-mushnya.
2.      Al-Quran adalah al-hudã (Panduan Hidup) bgi manusia yang menjamin keselamatan manusia dunia dan akhirat, lahir dan batin, material spiritual. Lebih-lebih apabila difahami 55 nama Al-Quran[5] yang sekaligus menjelaskan fungsinya, sebagai penjelasan dari inti al-hudã.
3.      Al-Quran sebagai wasīlah (media penghubung) ibadah ritual yang mendekatkan dan menghubungkan seseorang dengan kholiqnya. Dengan membaca Al-Quran juga kita bias langsung berdialog langsung dengan-Nya tanpa harus melalui perantara.

A.  SUMBER PENAFSIRAN PADA MASA TABI’IN
Sumber penafsiran pada masa tabi’in tidak jauh berbeda dengan sumber penafsiran pada masa sahabat kecuali ada tambahan satu bahwa tabi’in menjadikan qaul sahabat sebagai sumber penafsiran mereka, yaitu sebagai berikut:[6]
        1.          Alquran
        2.          Sunnah Nabi
        3.          Sahabat
        4.          Bahasa
        5.          Ahlul Kitab
        6.          Ijtihad
B.  MUFASSIR PADA MASA TABI’IN
Pada masa tabi’in, ada tiga sekolah/madrasah yang terkenal, yaitu:
        1.     Sekolah Ibn Abbas di Mekkah
Banyak ulama tafsir terkenal di kalangan tabi’in. Namun thabaqah ulama Mekkah mereka adalah murid-murid Ibn Abbas telah menempati posisi terdepan di bidang ini. Mereka adalah orang-orang yang paling mengerti tentang tafsir, sebagaimana disebutkan oleh Ibn Taimiyyah. Murid Ibn Abbas yang paling populer ada lima, yaitu:
a)        Mujahid ibn Jabr
Ia adalah Mujahid ibn Jabr al-Makki Maula al-Sa’ib ibn Abi al-Sa’ib, murid Ibn Abbas paling tsiqah r.a. Ia adalah imam yang tsiqah, alim dan ahli ibadah. Tafsirnya digunakan oleh Imam Syafi’i, Imam Bukhari dalam Shahih-nya danMujahid adalah orang yang paling alim pada masanya dalam bidang tafsir. Diriwayatkan bahwa ia berkata: “Aku menyodorkan bacaan Al-Qur’an kepada Ibn Abbas sebanyak tiga puluh kali.” Ada juga riwayat yang menyatakan tiga kali saja. Tidak ada pertentangan antara kedua riwayat ini, penyodoran pertama yang sampai 30 kali adalah untuk hapalan, bacaan dan tajwid. Sedang penyodoran yang kedua adalah untuk penafsiran dan penghayatan kandungannya. Mujahid berkata, aku menyodorkan Al-Qur’an kepada Ibn Abbas tiga kali. Di setiap ayat aku berhenti menanyakan maknanya, mengenai apa ia turun dan bagaiman ia turun.[7]
b)        Sa’id ibn Jubair
Ia adalah Muhammad Sa’id ibn Jubair ibn Hisyam al-Asadi, berasal dari Habasyah. Ia mempunyai banyak sahabat dan mengambil dari imam-imam dari kalangan mereka. Yang terpenting adalah Ibn Abbas dan Ibn Mas’ud. Ia termasuk pemuka dan imam tabi’in. Ia sangat menguasai tafsir, hadist dan fiqh. Ia telah berguru kepada Ibn Abbas dan mengambil Al-Qur’an dan tafsir darinya. Di samping menghimpun qira’ah-qira’ah yang kuat dari para sahabat dan menggunakan bacaan-bacaan itu.
Kemampuan qira’ah seperti itu telah memberinya keluasan untuk memahami Al-Qur’an, mengetahui makna-maknanya dan mencermati rahasia-rahasianya. Namun demikian, ia menahan diri dari mengemukakan pendapatnya sendiri. Ini membuat sebagian ulama lebih mendahulukan tafsirnya dibanding tafsir Mujahid dan murid-murid Ibn Abbas lainnya. Qatabadah rahimahullah mengatakan bahwa Sa’id adalah tabi’in mengerti tafsir.
c)        Ikrimah
Ia adalah Abu Abdillah Ikrimah al-Barbari al-Madani Maula Ibn Abbas, berasal dari Barbar kawasan Maghrib. Ia termasuk tabi’in pilihan dan pembesar mufasissirin dan ulama yang mengamalkan ilmunya. Ia meriwayatkan dari Ibn Abbas, Ali ibn Abi Thalib, Abu Hurairah dan lain-lain. Ia juga berkelana ke berbagai negara. Ia pernah pergi ke Afrika dan berkunjung ke Yaman, Syam, Irak dan Khurasan untuk menyebarkan ilmunya.
Ia telah mencapai derajat yang tinggi dalam bidang keilmuan, khususnya dibidang tafsir. Hubaib ibn Abi Tsabit Hubaib berkata, telah berkumpul dihadapanku lima orang yang belum pernah aku jumpai orang yang semisal mereka, yaitu Atha’, Thawus, Sa’id ibn Jubair, Ikrimah dan Mujahid. Sa’id dan Mujahid melemparkan pertanyaan-pertanyaan kepada Ikrimah. Keduanya tidak bertanya tentang tafsir kecuali ditafsirkannya. Ketika pertanyaan keduanya habis, Ikrimah berkata, ayat ini turun berkenaan dengan masalah ini, sedang ayat itu turun berkenaan dengan masalah ini.
Di anatara pujian orang kepadanya adalah perkataan Jabir ibn Zaid bahwa Ikrimah adalah orang yang paling alim. Juga perkataan al-Syafi’i: Tidak ada orang yang lebih tahu tentang Kitabullah dibanding Ikrimah. Dan masih banyak komentar-komentar yang memujinya dan menunjukkan status ilmiahnya. Meski demikian, ulama berbeda pendapat berkenaan dengan ke-tsiqah-annya. Sebagian mengatakan ia adalah tsiqah, sedang yang lain mengatakan ia tidak tsiqah. Tak seorang pun mencela keadilannya. Imam al-Bukhari berkata: Tidak seorang pun rekan kami yang tidak berhujjah dengan Ikrimah.
d)        Atha’ ibn Abi Rabah
Ia adalah Abu Muhammad ibn Atha’ ibn Abi Rabah al-Makki, salah seorang maula Quraisy. Ia termasuk pemuka tabi’in. Ia meriwayatkan dari sejumlah besar sahabat Rasulullah SAW., antara lain Ibn Abbas, Ibn Umar dan Ibn Amr ibn al-Ash. Bahkan ia pernah bercerita bahwa ia menjumpai sekitar dua ratus sahabat. Ia adalah orang yang tsiqah, faqih dan alim. Ia meriwayatkan banyak hadist. Di Mekkah puncak fatwa kembali kepadanya dan ia hidup hampir seratus tahun.
Abdul Aziz ibn Rafi’ berkata, Atha’ ditanya tentang suatu masalah, lalu ia menjawab, aku tidak tahu. Dikatakan kepadanya: Mengapa engaku tidak menjawab dengan pendapatmu sendii? Ia berkata, aku malu kepada Allah mengemukakan pendapatku sendiri di muka bumi ini. Ia meninggal pada tahun 124 H, menurut pendapat yang paling kuat.
e)      Thawus ibn Kaisan al-Yamani
Nama lengkapnya adalah Abu Abdurrahman Thawus ibn Khaisan al-Yamani, orang pertama dari thabaqah Yaman dari kalangan tabi’in, berasal dari Persi. Kisra mengirimkannya ke Yaman. Lalu ia tinggal disana dan menjadi ahli ilmu dan amal. Ia menjumpai sekitar lima puluh sahabat Nabi SAW. Sebuah riwayat menyatakan bahwa ia berhaji sebanyak empat puluh kali. Ia mustajab do’anya. Ibn Abbas r.a. berkata, saya menduga, Thawus adalah penghuni surga. Ia juga meriwayatkan dari empat Abdullah dan yang lain. Namun sejak awal ia adalah murid Ibn Abbas, karena ia meriwayatkan dari Ibn Abbas lebih banyak dibanding dari yang lain. Ia merupakan ayat di bidang ilmu, ibadah, zuhud dan takwa. Ia juga menjadi ahli ibadah yang zahid sampai wafat tahun 106 H.

2.     Sekolah Ibn Mas’ud di Kufah
Seperti halnya di Mekkah muncul bintang yaitu Ibn Abbas. Di Irak muncul bintang lain yaitu Abdullah ibn Mas’ud yang diberi kepercayaan oleh Umar untuk memimpin Kufah.
Di tangannya muncul sejumlah tabi’in terkemuka, diantaranya :
a)    ‘Alqamah ibn Qais
Ia lahir disaat Rasulullah SAW masih hidup. Ia meriwayatkan dari Umar, Utsman, Ibn Mas’ud dan lain-lain. Ia termasuk periwayat paling populer dari Ibn Mas’ud. Banyak ulama yang menilainya tsiqah. Imam Ahmad berkata, ia seorang tsiqah dari ahli kebaikan. Ia ada di al-Kutub al-Sittah. Ia meninggal pada tahun 61 atau 62 H.
b)   Masruq ibn al-Ajda’ ib Malik ibn Umayyah al-Hamdzani al-Kufi al-Abid
Ia seorang yang wara’ dan zahid. Ia banyak menyertai Ibn Mas’ud, disamping meriwayatkan pula dari Khulafa’urrasyidin dan yang lain. Ia imam di bidang tafsir, alim terhadap Kitabullah. Banyak ulama yang menilainya tsiqah. Ibn Ma’in berkata, ia tsiqah, la yus’al ‘anbu (tidak dipertanyakan). Al-Qadli Syuraih meminta pertimbangannya dalam memutuskan masalah-masalah penting. Yang meriwayatkan darinya adalah al-Sya’bi, Abu Wa’il dan yang lain karena kejujuran riwayatnya. Para penulis al-Kutub al-Sittah juga mentakhrijnya. Ia wafat pada tahun  63 H.
c)         Al-Aswad ibn Yazid ibn Qais al-Nakha’i (Abu Abdirrahman)
Ia termasuk pembesar tabi’in dan termasuk periwayat Ibn Mas’ud. Ia meriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, Ali, Hudzaifah, Bilal dan yang lain. Ia tsiqahsaleh, mengena Kitabullah. Banyak ulama yang menilainya tsiqah. Para penulis al-Kutub al-Sittah juga mentakhrijnya. Ia meninggal di Kufah tahun 74 atau 75 H.
d)      Murrah al-Hamadzani
Ia adalah Abu Isma’il Murrah ibn Syarahil al-Hamadzani al-Kufi al-Abid, yang dikenal dengan Murrah al-Thayyib dan Murrah al-Khair karena banyak ibadah, sangat wara’ dan sangat takwa. Ia meriwayatkan dari Abu Bakar, Umar, Ubai ibn Ka’b, Abdullah ibn Mas’ud dan yang lain. Yang meriwayatkan darinya adalah al-Sya’bi dan yang lain. Yang meriwayatkan darinya adalah al-Sya’bi dan yang lain. Banyak ulama yang menilainya tsiqah. Ia di takhrij oleh para penulis al-Kutub al-Sittah. Ia wafat tahun 76 H.
e)      Amir al-Sya’bi
Ia adalah Abu Amr Amir ibn Syarahil al-Sya’bi al-Himyari al-Kufi al-Tabi’i al-Jalil Qadli Kufah. Ia meriwayatkan dari Umar, Ali dan Abdullah ibn Mas’ud, meski ia tidak mendengar langsung dari mereka. Ia juga meriwayatkan dari Abu Hurairah, Aisyah, Ibn Abbas, Abu Musa al-Asy’ari dan lain-lain.
Meski banyak ilmu, ia sangat berhati-hati untuk mentakwilkan Kitabullah dengan pendapatnya sendiri. Ibn Athiyyah berkata, sejumlah ulama salaf, seperti Sa’id ibn al-Musayyab dan Amir al-Sya’bi sangat mengagungkan tafsir Al-Qur’an dan mereka menahan diri dari menafsirkannya dengan pendapat mereka karena sikap hati-hati. Tiga hal yang aku tidak akan mengeluarkan pendapatku sampai aku mati yaitu         Al-Qur’an, ruh dan ra’yu. Ia wafat tahun 109 H menurut pendapat yang masyhur.
f)       Al-Hasan al-Bashri
Ia adalah Abu Sa’id al-Hasan al-Bashri ibn Abi al-Hasan Yassar al-Bashri maula al-Anshar. Ibunya adalah Khayyirah muala umm Salamah. Ia lahir setelah kekhalifahan Umar ibn al-Khaththab.
Ia meriwayatkan dari Ali, Ibn Umar, Anas dan sejumlah sahabat dan tabi’in. Ibn Sa’d berkata, ia tsiqah ma’mun, ilmuwan yang agung, fashih, tampan, bertakwa dan bersih hatinya. Sampai dikatakan bahwa ia adalah tuan kalangan tabi’in. Hadistnya ada di al-Kutub al-Sittah. Ia wafat tahun 110 H dalam usia 88 tahun.
g)      Qatadah ibn Di’amah al-Sadusi
Nama kun-yahnya Abu al-Khaththab al-Akmah, keturunan Arab, tinggah di Bashrah. Ia termasuk periwayat Ibn Mas’ud, disamping meriwayatkan dari Anas ibn Malik, Abu al-Thufail, Ibn Sirin, Ikrimah, Atha’ ibn Abi Rabah dan yang lain. Ia memiliki daya hapal yang kuat, luas wawasannya dibidang syair dan memahami benar sejarah Arab, silsilah mereka dan menguasai bahasa Arab fashih. Karena ia sangat pandai dan bidang tafsir dan banyak ilmu. Abu Hatim berkata, aku mendengar Ahmad ibn Hanbal, dan ia menuturkan Qatadah, lalu ia memujinya panjang lebar, lalu ia membeberkan ilmunya, fiqihnya dan pengetahuannya tentang berbagai pendapat dan tafsir serta menilainya hafidh da faqih, lalu berkata, sedikit sekali engkau bisa menemui orang yang melebihinya, kalu sepadan mungkin saja. Ia wafat tahun 117 H dalam usia 56, menurut pendapat yang masyhur.
3.     Sekolah Tafsir di Madinah
Adapun di Madinah al-Munawwarah, tempat memancarnya hidayah dan menancapnya iman, maka ustadz kaum tabi’in disana adalah seorang sahabat agung Ubai ibn Ka’b. Ditambah sahabat-sahabat lain yang memilih tetap tinggal di Dar al-Iman.
Dari kalangan tabi’in yang terkenal dibidang tafsir di Madinah ada tiga, yaitu[8]:
a)    Abu al-Aliyah adalah Rafi’ ibn Mihran al-Rayyabi maula al-Rayyabi
Ia msuk Islam dua tahun setelah Rasulullah SAW wafat. Ia termasuk periwayat Ubai ibn Ka’b dan yang lain. Yang meriwayatkan darinya adalah al-Rabi’ ibn Anas, seorang tabi’i tsiqah. Banyak ulama memberikannya kesaksian akan keilmuannya dan keutamaannya. Para penulis al-Kutub al-Sittah telah menyepakatinya. Ia wafat tahun 90 H, menurut pendapat yang paling kuat.
b)   Muhammad ibn Ka’b al-Quradhi
Ia telah meriwayatkan dari Ali, Ibn Mas’ud dan Ibn Abbas, di samping meriwayatkan dari Ubai ibn Ka’b dengan wasithah (perantara). Ia dikenal tsiqah, adil dan wara’. Ia alim dibidang hadis dan takwil Al-Qur’an. Ibn Aun berkata, aku belum pernah melihat orang yang lebih alim tentang takwil Al-Qur’an dibanding al-Quradhi. Ibn Hibban berkata, ia termasuk pemuka warga Madinah dalam hal ilmu dan keagamaan. Ia ditakhrij oleh penulis al-Kutub al-Sittah. Ia wafat tahun 118 H.
c)    Zaid ibn Aslam
Ia adalah Abu Usamah atau Abu Abdillah al-Adawi al-Madani al-Faqih al-Mufassir Maula Umar ibn al-Khaththab. Ia termasuk pemuka tabi’in dan termasuk imam tafsir. Ulama memberikan kesaksian akan ke-tsqah-an dan keadilannya. Ia memiliki banyak ilmu dan tidak segan-segan menafsirkan Al-Qur’an dengan ra’yunya. Banyak yang mengambil tafsir darinya, yang terkenal di antaranya adalah putranya, Abdurrahman dan Malik ibn Anas Imam Dar al-Hijrah. Ia wafat tahun 136 H.
Mereka itulah para mufasir terkemuka dari kalangan tâbi‘în di sejumlah kota-kota Islam dengan ragam tingkatan kemampuan mereka. Tidak ragu lagi bahwa sekolah Ibn ‘Abbâs mengemban panji kepeloporan di bidang tafsir, sehingga Ibn Taimîyah pernah mengatakan bahwa yang paling menguasai tafsir adalah ulama Mekkah, karena mereka telah berguru kepada Ibn „Abbâs. Ulama-ulama yang dimaksud adalah Mujâhid, ’Atâ b. Abî Rabâ ,Ikrimah, Saîd b. Jubayr, dan Tâwûs.[9]

C.  CONTOH PENAFSIRAN PADA MASA SAHABAT

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Artinya: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali-Imran; 135)

Penafsiran kata muttaqin dalam ayat di atas, dengan menggunakan kandungan ayat berikutnya menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun maupun diwaktu sempit, dan orang-orang yang memaafkan. Contoh lain, Mujahid dengan beberapa sarjana segenerasinya memberikan interpretasi ayat-ayat al-Qur'an yang dijadikan sebagai pijakan penafsiran metaforis terhadap teks keagamaan. Salah satu contohnya adalah penafsiran Mujahid terhadap al-Baqarah ayat 65:
وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ
Artinya: “Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu, lalu kami berfirman kepada mereka, “jadilah kamu kera yang hina”.
Frasa “jadilah engkau kera yang hina” oleh Mujahid tidak diartikan secara fisik bahwa orang berubah wujud menjadi kera, akan tetapi hanya perilakunya. Hal ini disebabkan kalimat tersebut merupakan permisalan, matsal, yang dipakai oleh Tuhan, seperti halnya dalam al-Jumu'ah ayat 5:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا.....

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan taurat kepadanya, kemudian mereka tidak memikulnya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab tebal”. (Qs. Jumu’ah: 5)

Perbedaan yang terjadi di dalam metode penafsiran tabiin,[10] diantarannya adalah:
1.    Berbeda lafazh, bukan makna
Hal  seperti ini tidak memiliki pengaruh terhadap makna ayat. Contohnya adalah firman Allah Ta’ala:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا 

Artinya: “Dan tuhanmu telah memerintahkan suapaya kamu jangan meyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik”. (QS. Al-Isra: 23)
Mengucapkan kata “ah” kepada orang tua tidak dibolehkan oleh agama apalagi megucapkan kata-kata atau memperlakukan mereka dengan lebih kasar dari pada itu.
Ibn Abbas berkata, “makna qadla adalah amara (memerintah). “Mujahid berkata, “maknanya adalah washsha (berwasiat).” Ar Rabi’ Bin Anas berkata, “maknanya adalah wajaba (mewajibkan)”. Penafsiran-penafsiran seperti ini maknanya sama atau mirip sehingga tidak ada pengaruhnya perbedaan.
2.    Berbeda lafaz dan makna
Dalam hal ini, ayat (yang ditafsirkan) dapat menerima (mencakupi) kedua makna tersebut karena tidak bertentangan (kontradiksi). Artinya, ayat tersebut dapat diarahkan kepada kedua makna tersebut dan ditafsirkan dengan keduanya sehingga sinkronisasi terhadap perbedaan ini adalah bahwa maisng-masing dari kedua pendapat tersebut hanya diketengahkan sebgai contoh/ permisalan terhadap apa yang dimaksud ayat tersebut atau dalam rangka variasi saja.
وَّكَأْسً دِهَاقًا
Contoh lainnya, firman-Nya, “Dan gelas-gelas yang penuh )berisi minuman( (QS. An-Naba: 34)
Ibn abbas berkata, “makna dihaqa adalah penuh.” Mujahid berkata, “maknanya adalah berurutan (teratur).” Ikrimah berkata, “maknanya adalah bening”.[11] Sinkronisasi terhadap pendapa-pendapat ini adalah dengan mengarahkan ayat kepada seluruh pendapat tersebut sebab ia bisa menerimanya (mencakupinya) tanpa menimbulkan pertentangan (kotransiksi) sehingga seakan masing-masing pendapat itu hanya diketengahkan sebagai contoh atau pemisal.
Dalam hal contoh diatas penulis papar hanya sebagai sampel saja, agar kita mengenal bagaimana metode tabi’in dalam menafsirkan Al-Qur’an. Perlu kita ketahui juga bahwa Tabi’in tidak menafsirkan secara langsung dan keselurahan ayat Al-Quran lalu ditulis, akan tetapi orang lain yang mengumpulkannya semua pendapat tabiin lalu dikitabkan. Maka tabi’in tidak punya karangan kitab khusus tafsir, yang seperti pada periode tafsir modern dan kontemporer sekarang.



















Daftar pustaka
Baidan, Nashruddin, Perkembangan Tafsir Al-Qur'an Di Indonesia. (Tiga Serangkai: 2003)



[1] Hadis Nomor 2457 dalam Bab Tidak boleh bersaksi palsu; Nomor 3377 dalam Bab Keutamaan Sahabat Nabi; nomor 3415 dalam Bab Waspada dari gemerlap dunia; Nomor 6201 dalam Bab Dosa bagi yang tidak membayar nazar. 
[2] Dalam literature Arab kata Tabi’in sendiri terambil dari kata (Arabالتابعونpengikut), adalah orang Islam awal yang masa hidupnya setelah para Sahabat Nabi dan tidak mengalami masa hidup Nabi Muhammad. Usianya tentu saja lebih muda dari Sahabat Nabi, bahkan ada yang masih anak-anak atau remaja pada masa Sahabat masih hidup. Sebagaimana Baidan, Nashruddin mengungkapkan dalam bukunya, Perkembangan Tafsir Al-Qur'an Di Indonesia hlm. 10. Menyatakan bahwa;Tabi'in merupakan murid Sahabat Nabi. Masa Tabi'in dimulai sejak wafatnya Sahabat Nabi terakhir, Abu Thufail al-Laitsi, pada tahun 100 H (735 M) di kota Mekkah; dan berakhir dengan wafatnya Tabi'in terakhir, Khalaf bin Khulaifat, pada tahun 181 H (812 M)
[3] Dra. Hj. Yayan Rahmatika, M.Ag Dan Dadan Rusmana, M.Ag, Metodologi Tafsir Al-Quran Strukturalisme, Semantik, Semiotik Dan Hermeneutik, Pustaka Setia, Bandung, 2013, Hlm. 8
[4] KH. Drs. Muchtar Adam, Ulumul Quran Studi Perkembangan Pesantren Al-Quran, Makrifat Media Utama, Bandung, Tth, Hlm. 5
[5] Abul Ma’ali Syaizalah dalam kitabnya  Al-Burhan fi Musykilatil Quran, dialah yang pertama kali menyatakan nama-nama Al-Quran dengan 55 nama, sesuai dengan Firman Allah yang diterangkan dalam berbagai ayat Al-Quran. 
[6] At-thayyar, Musaid Bin Sulaiman, Fushulun Fi Ushul At-tafsir, Daar Ibn Al-Jauzi: 1999 M, Hlm. 39.
[7] Az-Zahabi, Muhyiddin, At-tafsir wal Mufassirun Juz 1, Maktabah Wahbah: Cairo. Hlm. 79.
[8] Yunus Hasan Abid, Tafsir al-Qur’an: Sejarah Tafsir dan Metode Para Mufasir (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2007), 35
[9] Ibid., 36.
[10] Syaikh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin, Ushul Fi At-Tafsir, h.30-31
[11] Wahbah Zuhaili, Al-tafsir Al-Munirfi Al-‘Aqidah Wa Al-Syri’ah Wa Al-Manhaj, Juz 9. (Bairut: Dar Al-Fikri)